Ceramah Bakda Zuhur di Musholla Al Mizan PTA Medan
Transformasi Nilai-nilai Spiritual Puasa ke Dalam Jiwa Seorang Mu'min
Oleh : Drs. H. Yusuf Buchori, SH., M.Si

Bertempat di Mushola Al-Mizan Pengadilan Tinggi Agama Medan, pada tanggal 8 Juli 2015 yang bertepatan dengan Ramadhan ke-21 1436 H, Bapak Drs. H. Yusuf Buchori, SH., M.Si berkesempatan memberikan tausiyah bakda Sholat Zuhur kepada jemaah. Berikut isi tausiyah beliau:
1. Perjalanan spiritual selama menjalani ibadah puasa.
Syekh Rasyid Ridla dalam Tafsir al-Manar menyatakan : bahwa tujuan utama dari ibadah puasa adalah mempersiapkan manusia beriman untuk menjadi hamba Allah yang bertaqwa kepada Nya. Bagi orang yang berpuasa ketika merasakan keadaan lapar, maka ia akan teringat kepada saudara lainnya yang tidak ada bahan makanan dirumahnya sehingga tumbulah dalam diri orang yang berpuasa itu rasa cinta kasih (ro’fah) dan sayang (rahmah) kepadanya, dan hal itu mendorong kepada dirinya untuk mau berkorban dan berinfaq. Perasaan ro’fah dan rahmah yang dimiliki Rasulullah saw, maka Allah swt memberikan penghormatan sebagai hambaNya yang mempunyai sifat sebagaimana sifat Allah yaitu “Raufu al-Rahiim” atau “Ruhamaa”. Dari sifat kasih sayang tersebut lahir “ijtima’iyyah” (kesetia kawanan sosial), “ukhuwah” (persaudaraan dan kekeluargaan), “al-musaamah” (kesamaan derajat yaitu antara si kaya dengan si miskin, antara penguasa dan rakyat, dsb).
Ibadah Puasa adalah ibadah yang teristimewa jika dibanding dengan ibadah lainnya, karena Ibadah puasa bukan “al-if’al bi al-syai’”, tetapi “al-imsak ‘an al-syai’”. Menahan makan dan minum serta hal-hal lain yang bisa membatalkan puasa adalah memerlukan ketahanan fisik dan mental, karena hal itu berlawanan dengan keingian hawa nafsu manusia, sehingga dalam ibadah puasa ini terkandung pelajaran melatih kesabaran seseorang agar ia mampu untuk mengendalikan hawa nafsunya, dan memiliki jiwa “muraqabah” (kedekatan) kepada Allah swt dan merasa malu untuk berbuat dosa karena Allah swt selalu mengawasinya.
Ibadah puasa ibarat orang berjalan menuju Allah swt (maqom rabbaniyyah) dan perjalanan itu dimulai dari satu maqom ke maqom lain secara bertahap (thobaq ‘an thobaq). Perjalanan tersebut dimaksudkan untuk tazkiyatun nafs (mensucikan jiwanya) yaitu menjadikan dirinya suci bersih dari segala kotoran, hati yang bersih ibarat cermin yang bisa menangkap bayang2 sosok wujud sebuah benda sehingga sosok wujud itu nampak dengan jelas, wujud itu tak akan jelas tanpa cahaya, sinar yang menerangi wujud atau yang menyinari cerminya dan kemudian memantul ke wujud sehingga wujud itu tersinari dan terlihat dalam cermin itu.
Cahaya adalah sinar hidayah Allah yang dapat ditangkap dengan jelas dalam cermin hati yang tersucikan, bila sosok hidayah itu dapat kita tangkap dengan jelas dan bermukim dihati, maka selamatlah diri kita karena akan membuahkan sifat “taqwa” yang akan beranak pinak menjadi sifat sifat yang mulia, sifat ikhlas, istiqomah, dan qanaah, maqam syukur akan terlahir dalam diri kita, sehingga diri ini berteduh dan berlabuh dalam keheninggan genggaman Illahi.
Secara sederhana dapat kita katakan bahwa perjalanan menuju Allah adalah berpindah dari sosok yang kurang sempurna menjadi pribadi yang senpurna dalam kesalehan, mengikuti sunnah Rasulullah saw yaitu perjalanan hidup beliau baik ucapan, perbuatan dan sifat batin Rosulullah saw. Target utamanya adalah hati yang sehat (qalbun salim) , yaitu hati yang menyambut segala perintah Allah swt dengan nyaman dan ikhlas dengan totalitas ketundukan dan keridlaan, sehingga menuntun jasad untuk berjalan menuju pengamalan perintah Allah swt dengan kekuatan semangat dan kesungguhan.
Dalam pandangan syeikh Sa’id Hawa r.a membicarakan perjalanan menuju Allah bukanlah perkara mudah. Ada beberap faktor yang penyebabnya antara lain; Pertama : sangat sulit membatasi dan memetakan permasalahan ini. Kedua: karena dalam menyoroti permasalahn ini manusia terpecah menjadi beberapa golongan, setiap golongan memiliki kecenderungan yang berbeda.Mereka memandang seluruh persoalan dengan kacamata masing masing. Seorang yang sedang berjalan menuju Allah sering mengalami kondisi ruhiyah yang menghanyutkan perasaannya. Merasakan kemahaesaan Tuhan hanyut merasakan nama Allah yang menjadi tempat meminta dan berteduh dari segala kebutuhan kita. Ini adalah kondisi dimana orang merasakan segala sesuatu menjadi lenyap tidak berbekas, namun perasaan itu harus dibarengi keyakinan bahwa Allah adalah pencipta semua alam termasuk dirinya sendiri.
Ada dua maqom (jenjang spiritual) yang disebutkan dalam al-Qur’an yaitu maqom shiddiqiyah dan Rabbaniyyah. Dalam pandangan Syeikh Sa’id Hawa “shidiq” menurut beberapa nash memiliki dua makna, pertama: sangat membenarkan (mempercayai) kedua ; sangat benar. Firman Allah :
“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, mereka itu adalah As shiddiqun (pencinta kebenaran) dan saksi-saksi (syuhada’) di sisi Tuhan mereka. Mereka berhak mendapat pahala dan cahaya. Tetapi orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni-penghuni neraka.”
Hal yang menjadikan mereka shiddiqun adalah tasdiq (pembenaran) atas keimanan mereka. Oleh karena mereka benar dan selalu berupaya mencari yang benar, ia menjadi “shiddiqun“. Rabbaniyyah adalah shidiqiyyah plus; shiddiqiyyah didasarkan pada ma’rifah (mengenal) Allah dan ibadah kepadaNya dan rabbaniyah adalah siddiqiyyah yang disertai dengan ilmu, mengajar, nasehat, berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, amar ma’ruf nahi mungkar. Dalam kedua maqam itu ada kedalaman iman, akhlak dan perangai yang akan menjadikan pemilik kedua maqam tersebut memperoleh kedudukan yang tinggi disisi Allah. Mereka adalah “as- sabiqun” (para senior dan pelopor dalam kebaikan) dan “al-muqorrobun” ( orang yang didekatkan Allah). Allah swt berfirman :
“Dan as-sabiqun (orang orang terdahulu) itu adalah as-sabiqun. Mereka itu adalah al-muqarrabun (orang orang yang didekatkan kepada Allah).”
Selanjutnya dalam surat yang sama di ayat 88 – 91 Allah swt menyatakan bahwa orang-orang muqarrabin lah yang akan mendapatkan kemenangan baik dunia maupun akherat. Allah swt berfirman :
“Maka adapun jika ia dari golongan al muqarobin, maka baginya kelapangan, istirahat dan surga kenikmatan. Dan adapun jika ia dari ashabul yamin ( golongan kanan ),maka keselamatan bagimu dari golongan ashabul yamin.”
Jalan untuk sampai kepada Allah berkaitan dengan maqam, maqam dalam hati. As shiddiqiyah merupakan perbuatan dan hal ikhwal yang berkenaan dengan hati. Syeikh al Qusyairi r a. telah membicarakan kedudukan as-shidiqun yang berkaitan dengan perbuatan dan berkenaan dengan hati yaitu thobaq ‘an thobaq (tahap demi tahap) yaitu, taubat, mujahadah, zuhud, diam, lapar dan lainnya, merupakan tahap-tahap yang harus dilalui sebagai stasiun dalam perjalanan menuju Allah. As-shiddiiqun dan Ar-Rabbaniyun adalah pangkat mulia yang dijanjikan Allah yaitu hamba hamba Allah yang layak dekat dengan Tuhanya dan menjadi walinya, surga kautstar yang penuh telaga madu susu serta air tawar yang meneduhkan perasan hambaNya, sunyi dari hal yang mengeruhkan perasaannya. Pangkat itu hak yang bisa diraih setiap muslim yang sungnguh sungguh menuju Allah dan Allah swt akan memberikan pangkat dan kedudukan itu. Amin.
2. Istiqamah sesudah Ramadlan.
Menurut pengertian bahasa (literal), al-istiqaamah bermakna al-i’tidaal (lurus). Jika dinyatakan “istaqaama lahu al-amr”, maknanya adalah tegak lurus. Seperti halnya firman Allah swt, “Tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya”. Makna “istiqamah” pada ayat ini adalah tegak lurus untuk selalu menghadap kepada Allah swt, tanpa berpaling kepada yang lain. Istiqaamah juga bermakna al-istiwaa` (lurus dan setimbang). Makna semacam ini bisa dijumpai di dalam surat al-Fushilat, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah, kemudian beristiqamah..” Makna istiqamah di dalam ayat ini adalah melaksanakan ketaatan dan berpegang teguh kepada sunnah Nabi saw.” Menurut al-Aswad bin Malik, ayat ini bermakna, “Janganlah kamu menyekutukan Allah swt dengan apapun”. Sedangkan Qatadah mengartikan istiqamah pada ayat itu dengan “teguh” untuk selalu mentaati Allah swt.
Ada pula yang menafsirkan “istiqamah” dalam surat al-Fushshilat ayat 30 dengan, “beriman kepada Allah dan tidak pernah mengotori keimanannya dengan kedzaliman”. Ada pula yang mengartikan dengan, “tidak berbuat dosa dan tidak mencemari imannya dengan kesalahan”. Sedangkan menurut Imam Qurthubiy, istiqamah adalah tegak lurus atau konsisten untuk selalu mentaati Allah swt, baik dalam keyakinan, perkataan, dan perbuatan, kemudian tetap dalam kondisi semacam itu secara terus-menerus”.
Di dalam Tafsir al-Baidlawiy, Imam Baidlawiy, menyitir riwayat dari Khulafaur Rasyidin, menyatakan, “Istiqamah adalah al-tsabat (teguh) dalam iman, ikhlash dalam amal dan menunaikan seluruh kewajiban.”
Pada dasarnya, Allah swt telah mewajibkan Rasulullah saw dan kaum Mukmin untuk selalu istiqamah di jalan Allah swt. Di dalam sebuah ayat, Allah swt berfirman;
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang Telah Taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan”.
Tatkala Allah swt memerintahkan beragam perintah, mulai dari tauhid, kenabian, dan sebagainya, Allah swt memerintahkan kepada Rasulullah saw untuk beristiqamah (teguh dan konsisten) atas apa yang telah diperintahkan kepadanya. Perintah istiqamah di sini mencakup perkara-perkara ‘aqidah dan syariat (amal). Tugas ini tentunya sangatlah berat. Wajar saja Rasullah saw pernah bersabda, “Rambutku beruban karena surat Huud” .
Imam Qurthubiy menjelaskan; ayat ini merupakan perintah kepada Nabi saw dan kepada umatnya untuk istiqamah. Menurut Ibnu ‘Abbas, tak ada ayat yang diturunkan kepada Nabi saw yang lebih berat dan sulit dibandingkan surat Huud ayat 112. Oleh karena itu, tatkala beliau saw ditanya para shahabat, “Sungguh, anda cepat sekali beruban”. Rasulullah saw menjawab,”Aku beruban karena surat Huud dan suadara-saudaranya”.
Di dalam kitab Fath al-Qadir, Imam Syaukani menuturkan, “Fastaqim kamaa umirta, maknanya adalah beristiqamahlah seperti yang telah diperintahkan kepadamu, yakni semua hal yang diperintahkan Allah swt. Jadi perintah istiqamah di sini mencakup semua hal yang diperintahkan dan dilarang Allah.”
Perintah untuk istiqamah di atas jalan Allah juga disitir di dalam sunnah. Dari Abu ‘Amr diriwayatkan bahwasanya ia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepada saya suatu ucapan yang ada di dalam Islam, yang tak seorangpun bisa mengatakannya kecuali diri Anda. Rasulullah saw menjawab, “Katakanlah saya beriman kepada Allah, lalu teguhlah kamu dalam pendirianmu itu”.[HR. Imam Muslim]
Dari Abu Hurairah ra diriwayatkan, bahwasanya Nabi saw bersabda, “Biasa-biasa sajalah kamu sekalian di dalam mendekatkan diri kepada Allah, dan berpegang teguhlah kamu sekalian terhadap apa yang kalian yakini. Ketahuilah, tak ada seorangpun diantara kalian yang selamat karena amalnya. Para shahabat bertanya, “Tidak juga Anda, Ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak juga saya, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karuniaNya”.[HR. Imam Muslim]
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa istiqamah di jalan Allah; yakni selalu konsisten dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya adalah kewajiban bagi seluruh kaum Muslim, tanpa ada pengecualian.
3. Keutamaan Istiqamah di Jalan Allah
Orang yang istiqamah di jalan Allah, niscaya akan mendapatkan banyak keutamaan. Allah swt telah menjelaskan masalah ini dengan sangat jelas di dalam al-Quran. Diantara ayat-ayat yang berbicara tentang keutamaan istiqamah adalah ayat berikut ini;
“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, Kemudian mereka tetap istiqamah. Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.”
Ayat-ayat di atas menjelaskan dengan sangat gamblang, bahwasanya orang yang istiqamah di jalan Allah akan memperoleh banyak keutamaan, Diantara keutamaan-keutamaan tersebut adalah:
Pertama, Allah akan menurunkan malaikat kepada orang-orang yang beriman dan beristiqamah di jalan Allah. Malaikat tersebut menghibur dengan ucapan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Ibnu Zaid dan Mujahid menyatakan; malaikat akan diturunkan kepada orang tersebut menjelang kematiannya. Muqatil dan Qatadah berpendapat; malaikat akan diturunkan saat ia dibangkitkan dari kubur. Sedangkan menurut Ibnu ‘Abbas, ini adalah kabar gembira dari malaikat untuk mereka kelak di akherat. Ibnu Zaid dan al-Waqi’ menyatakan, kabar gembira tersebut akan disampaikan di tiga tempat; pertama, menjelang kematiannya; kedua, ketika berada di dalam kubur, dan ketiga, saat dibangkitkan dari kubur.
Kedua, malaikat akan menjadi penolong (wali) orang yang istiqamah di kehidupan dunia dan akherat. Menurut Mujahid, malaikat akan menjadi kroni orang-orang yang istiqamah di kehidupan dunia, dan kelak di akherat, malaikat itu tidak akan berpisah dengan orang tersebut hingga ia masuk ke dalam surganya Allah. Al-Sudiy menyatakan, malaikat akan menjadi penjaga amal orang yang istiqamah di kehidupan dunia, dan penolong di hari akhir.
Di ayat lain, al-Quran juga menyatakan dengan sangat jelas, orang yang beristiqamah di jalan Allah akan mendapatkan anugerah harta dan keberkahan yang melimpah ruah. Allah swt berfirman;
“Dan bahwasanya: Jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak)”.
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim, dari Ibnu ‘Abbas ra, bahwasanya makna ayat ini adalah; jika mereka melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka, niscaya mereka akan mendapatkan kenikmatan. Dituturkan juga dari ‘Abdu bin Hamid dan Ibnu Mundzir dari Mujahid; makna ayat ini adalah, seandainya saja mereka konsisten untuk mentaati Allah dan semua yang diperintahkan Allah kepada mereka, niscaya Allah akan memberi mereka harta yang sangat banyak, hingga mereka menjadi kaya raya. ‘Abdu bin Hamid dan Ibnu Mundzir juga menuturkan sebuah riwayat dari Mujahid, bahwasanya makna ayat di atas adalah; seandainya mereka konsisten dan teguh di atas jalan Islam, niscaya Allah akan memberi mereka harta yang melimpah ruah.
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, bahwasanya makna surat Jin ayat 16 adalah, seandainya mereka istiqamah di jalan Allah, niscaya Allah akan memberi mereka harta yang banyak. Penafsiran serupa juga diketengahkan oleh Sa’id bin Jabir , al-A’masy, al-Minhal. Sedangkan menurut Qatadah, maknanya adalah, seandainya mereka beriman, niscaya Allah akan meluaskan rejeki mereka di dunia.
Ali al-Shabuniy menjelaskan firman Allah di atas (surat Jin : 16) sebagai berikut, “Seandainya orang-orang kafir itu beriman, dan istiqamah di atas syariat Islam, niscaya Allah akan meluaskan rejeki mereka, dan melapangkan urusan dunianya. “Ma-an ghadzaqon” merupakan tamsil dari rejeki yang banyak. Al-Thariiqah adalah thariqah Islam (jalan Islam) dan taat kepada Allah. Dengan demikian maknanya adalah, seandainya mereka istiqamah di atas jalan itu, niscaya Allah akan melapangkan rejeki mereka, seperti firmanNya, “Seandainya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, sungguh akan Kami bukakan bagi mereka keberkahan-keberkahan dari langit dan bumi..”
Inilah keutamaan-keutamaan yang akan didapatkan orang-orang yang istiqamah di jalan Allah swt.
Setelah selesai menjalani ibadah puasa, kita orang-orang yang beriman agar supaya tetap istiqamah menjaga keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt. Adapun kiat untuk menjaga keistiqamahan diri dapat diringkas sebagai berikut;
Pertama, mengembangkan ‘aqliyyah Islaamiyyah (system berfikir yang Islamiy). Caranya adalah dengan menambah dan memperbanyak ilmu dan tsaqafah Islam, agar seseorang semakin memahami halal dan haram. Untuk itu, hendaknya kita banyak menghadiri majelis ilmu dan memiliki motivasi yang kuat untuk terlibat aktif di dalamnya. Cara berikutnya adalah dengan banyak dan rajin membaca buku pemikiran Islam baik yang menyangkut masalah aqidah maupun syariat (fiqh); dan lain sebagainya.
Kedua, mengembangkan nafsiyyah (system kejiwaan). Kiatnya, memupuk ketaatan kepada Allah swt dengan menjalankan seluruh perintahNya dengan penuh keikhlasan. Mendekatkan diri kepada Allah swt dengan memperbanyak amalan-amalan sunnah (membaca al-Quran, sholat Dluha, Thahajjud, dan sebagainya). Melatih kecenderungan kita ke arah yang baik (taqwa), serta menjauhkan diri kita dari kecenderungan yang buruk.
Semoga Allah swt tetap memberikan kekuatan dan hidayah kepada kita, amin.
Ingin Punya Aura Positif
Oleh : Drs. H. Busra, SH. MH

Pada hari kedua puluh puasa Ramadhan 1436 H, Tushiah Ramadhan disampaikan oleh Hakim Tinggi PTA Medan Bapak Drs. H. Busra, SH. MH. Dalam taushiah Ramadhan itu Drs. H. Busra, SH. MH mengambil judul Ingin PUNYA AURA POSITIF.
Aura adalah medan energi yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup. Ada juga yang beranggapan bahwa Aura pancaran cahaya wajah atau pancaran cahaya yang keluar dari tubuh anda. Aura ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan anda sehari hari. Pernahkah anda melihat orang yang raut wajahnya berbinar energi sehingga manarik siapa saja lawan bicaranya.
Sementara sarjana ahli sinar tubuh, W.E Butler, mendefinisikan aura sebagai inti sari tak tampak. Willem Hogendoorn, mendifinisikan sebagai bentuk sinar yang mengelilingi tubuh manusia. Ahli terapi warna, Erwin, berpendapat sebagai sinar kehidupan yang melingkupi tubuh manusia.
Dari defenisi-defenisi diatas maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa Aura adalah suatu medan magnet elektromagnetik yang mengelilingi seluruh tubuh mahluk hidup. Dalam kisah-kisah Orang Suci atau para Nabi sering digambarkan seperti lingkaran HALO di sekitar kepala. AURA setiap manusia berbeda satu dengan yang lain. Ada yang berwarnah Merah, Hijau, Biru, atau Ungu. Setiap Vibrasi warna AURA memiliki ARTI yang berbeda.
Al-Qur’an tentang aura positif, Surat Al-Fath ayat 29.

Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.
Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
Selanjutnya firman Allah pada surat Al-Ghasyiyyah ayat 1-16:

Artinya :
- Sudah datangkah kepadamu berita (Tentang) hari pembalasan?
- Banyak muka pada hari itu tunduk terhina,
- Bekerja keras lagi kepayahan,
- Memasuki api yang sangat panas (neraka),
- Diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas.
- Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri,
- Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.
- Banyak muka pada hari itu berseri-seri,
- Merasa senang karena usahanya,
- Dalam syurga yang tinggi,
- Tidak kamu dengar di dalamnya Perkataan yang tidak berguna.
- Di dalamnya ada mata air yang mengalir.
- Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan,
- Dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya),
- Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun,
- Dan permadani-permadani yang terhampar.

Seorang teman yang akan segera pensiun ditanya oleh temannya apa rahasia agar punya aura positif. Beberapa rahasianya diungkapkannya dalam beberapa hal :
1. Berfikirlah positif (Positive Thinking).
Al Hujurat ayat 12 :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Hadis Qudsi menebutkan : “Ana ‘inda zhanni ‘abdi bi wa ana ma’ahu iza zakarani. Fain zakarani fi nafsihi , zakartuhu fi nafsi, wain zakarani fi mala’in zakartuhu fi mala’in khayrin minhum. Wain taqarruba ilaiya shibran, taqarrabtu ilayhi zira’an, wa in taqarruba ilaiya zira’an, taqarrabtu ilaihi ba’a, wa in athani yamsyiy, ataytuhu harwalatan. (Aku sesuai dengan perkiraan hamba-Ku tentangKu. Dan Aku bersamanya apabia ia mengingatku. Maka jika ia mengingatku dalam dirinya, maka aku mengingat dirinya dalam diriku. Apabila ia mengingatku dalam sekumpulan jama’ah manusia, maka Akupun akan mengingatnya dalam sekumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila ia mendekatiku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila ia mendekatiu sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa…Dan apabila ia mendekati dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari. ). Jadi, apa yang dilakukan Allah kepada seorang hamba sesuai dengan dugaannya kepadaNya.
Ada doa yang bagus dan baik kita amalkan :
““Allahummaj’al awwalayawmina hadza shalahan wa awsathahu najahan wa akhirahufalahan (Ya Allah, jadikanlah awal hari kami ini kebaikan, pertengahannya keberuntungan, dan akhirnya kebahagiaan).”
Empat cara berfikir positif :
a. Sugesti positif.
b. Sapu bersih keluhan, ganti dengan bersyukur.
c. Lakukan visualisasi.
d. Lakukan hal yang menyenangkan.
2. Berusahalah memiliki perasaan bahagia dalam setiap situasi.
3. Membiasakan hidup rileks.
4. Bersenam atau berjalan santai di alam terbuka.
5. Banyak mengkonsumsi makanan sehat.
وَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّهُ حَلاَلاً طَيِّباً وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِيَ أَنتُم بِهِ مُؤْمِنُونَ
Artinya : Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.
6. Rajin beribadah, berzikir dan berdo’a.
7. Cukup istirahat.
Demikian taushiah ini disampaikan kiranya bermanfaat buat saya dan pembaca sekalian. (ahz)
Ceramah Bakda Zuhur Ramadhan di Musalla PTA Medan
Keutamaan Shodakah dan Balasan Orang yang Bakhil
Oleh: Drs. H. Syazili Mathir, SH, MH

PTA Medan , Kamis, 02-07-2015
Ceramah Ramadhan 1436 H ba'da sholat Zuhur pada hari Kamis 2 Juli 2015 berlangsung di Musholla Al Mizan PTA Medan bertindak selaku pencermah Drs. H.M Syazili Mathir,MH Hakim Pengadilan Tinggi Agama Medan dan Moderator/Pembawa Acara Burhanuddin Harahap, SH.,MH
Acara dihadiri Ketua PTA Medan Drs. H.Moh.Thahir, SH.,MH, para Hakim Tinggi Pejabat Struktural Fungsiaonal.
Dalam ceramahnya Drs.H.M Syazili Mathir, MH. menguraikan tentang keutamaan orang yang selalu bershodakah teutama dilakukan di bulan ramadhan yang pahalanya berlipat ganda dan balasan orang yang pelit atau bakhil di akahirat nanti.
Sebagai contoh dan perumpamaan orang yang bekgil. beliau menguraikan dalil dalam alquran surat Al Imran ayat 180
وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ÇÊÑÉÈ
Artinya: sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dalam ayat lain Allah berfirman ( At Taubah- 34-35).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ اْلأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ÇÌÎÈ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ ÇÌÍÈ
Artinya: 34. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,
35. pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu."
Kemudian di ceritakan oleh HM Syazili Mathir, Dalam suatu kisah diriwayatkan bahwa pada suatu subuh, ketika nabi Muhammad SAW sedang duduk-duduk di masjid bersama beberapa sahabat selepas sholat, tiba-tiba masuk seorang Muslimah sambil menagis dan berkata : “Ya Rasulullah, obatilah tanganku yang lumpuh ini” Sejak kapan tanganmu lumpuh ?. Tanya Rasul. “ Baru sejak bangun tidur tadi pagi Ya Rasulullah” Kemudian perempuan (Muslimah) itu bercerita Tadi malam dia bermimpi hari kiamat telah tiba, dan kepadanya diperlihatkan neraka dan surga. Ketika melihat neraka, dia terkejut melihat ibunya sedang disiksa didalamnya. Di tangan ibunya tergenggam segumpal lemak dan selembar kain. Dengan kedua benda itu ibunya mencoba menangkis sengatan api neraka . Perempuan itu bertanya kepada ibunya ; “Ibu mengapa masuk neraka, sedangkan ibu selalu menegakkan sholat dan ketika ibu wafat ayah selaku suami ibu telah rela kepada ibu.?” Ibunya menjawab : “ Anakku, aku masuk neraka bukan karena meninggalkan sholat atau durhaka pada suami, tetapi aku masuk neraka karena aku bakhil “. Apa yang ditangan Ibu ? Tanya perempuan itu. “ Anakku inilah barang yang pernah aku sedekahkan dulu. Seandainya sedekahku dulu banyak tettu aku akan dapat menangkis jilatan api neraka ini. “ Dimana Ayah ?” Tanya perempuan itu pula . “ Ayahmu orang yang dermawan, dia ada di dalam sorga jawab ibunya.
Kemuadia aku pergi ke sorga menemui ayahku “ kata perempuan itu melanjutkan ceritanya ‘ Di Sorga aku lihat ayahku sedang membag-bagi air dari telagamu Ya Rasulullah . Lalu aku bertanya kepada Ayahku : “ Ayah Ibu di neraka sangat membutuhkan air ini, mengapa ayah tidak memberikan kepadanya ?. Ayahku waktu itu menjawab : “ Anakku, air ini khusus untuk mereka yang dermawan, Ibumu orang yang bakhil karena itu dia tidak berhak memperoleh air dari telaga Rasul “.
Maka diam-diam akau ambil air itu satu gayung untuk aku berikan kepada Ibuku. Tiba-tiba di tengah jalan terdengar suara yang berkata : “Hai perempuan yang mengambil air telaga Rasul tanpa hak, lumpuhlah tangannu” Mendengar suara itu aku terkejut dan terbangun dari tidurku, Ya Rasulullah. Tetapi anehnya tanganku benar-benar menjadi lumpuh. Oleh karena itu, setelah sholat subuh , Saya menghadap kemari karena yakin hannya dengan perantaraanmu tanganku dapat sembuh kembali “
Mendengan kisah perempuan tesebut, Nabi Muhammad SAW besabda : “ Mimpimu adalah RUKYAH SODIQOH, mimpi yang benar” Kemudian dengan tongkatnya Nabi menyentuh tanga perempuan yang lumpuih itu dan mendoakannya sehingga tangan itu sembuh kembali.
Demikian cerita orang yang dermawan dan bakhil yang disampaikan penceramah di musalla Al Mizan PTA Medan Kamis 2 Juli 2015. (hba)
Ceramah Ramadhan 1436H PTA Medan : 10 Jenis Buah Yang Dikonsumsi Saat Ramadhan
Oleh: Drs. H. Syamsuddin Harahap, SH, MH

PTA Medan , Senin 29-06-2015
Ceramah Ramadhan 1436 H ba'da sholat Zuhur pada hari Senin 29 Juni 2015 berlangsung di Musholla Al Mizan PTA Medan yang rutin dilaksanakan stiap hari Senin s/d Kamis selama bulan Ramadhan 1436 H, dan pada hari itu bertindak selaku pencermah Drs. H Syamsuddin Harahap .SH.,Hakim Pengadilan Tinggi Agama Medan dan Moderator/Pembawa Acara H.Baharuddin Ahmad, SH.,MH Ketua BKM Almizan PTA Medan.
Acara dihadiri Ketua PTA Medan Drs. H.Moh.Thahir, SH.,MH, Wakil Ketua PTA Medan Dr.Hj.Djazimah Muqoddas, SH., M.Hum para Hakim Tinggi Pejabat Struktural Fungsiaonal, Ketua PA Stabat Drs. H.Syaifuddin, SH.M.Hum serta Karyawan Karyawati PTA Medan.
Dalam ceramahnya Drs.H.Syamsuddin Harahap,SH.menguraikan tentang contoh orang yang yang berbauat baik dan berbuat buruk dalam kehidupan di dunia dan menguraikan tentang arti dan makna 10 buah yang sanagat bermanfaat dikonsemsi selama bulan Ramadhan.

Sepuluh buah dimaksud adalah 1 Anggur yang maknanya menurut H Syamsuddin adalah Ayo gemar bersyukur. 2. Salak yaitu selalu baik dalam bertindak, 3.Stroberi yaitu selalu Instrospeksi diri dan belajar rendah hati. 4 Jeruk yang bermakna Jangan berbuat buruk, 5. Pisang yaitu Pantang Iri, Sambong dan Angkuh, 6.Markisa yaitu Mari kita sabar 7. Melon maknanya Menolong orang lain 8. Mentimun yaitu menuntut ilmu dan tidak banyak melamun yang maksudnya selalu belajar dan mengaji/tadarrus alquran. 9 . Talas yang bermakna tidak ada kata malas, dan 10. Tomat yang bermakna Tobat sebelum terlambat atau kiamat.
Tausiyah Ramadhan 1436H di PTA Medan: Mensyukuri Ni'mat Allah
Oleh : M RIDWAN SIREGAR, SH,MH

Bertempat di Mushoola Al-Mizan PTA Medan, pada hari ke delapan Ramadhan 1436H, setelah sholat Suhur berjamaah, jamaah musholla Al-Mizan mendengarkan tausiyah yang disampaikan oleh salah seorang hakim tinggi kali ini adalah Bapak M. Ridwan Siregar, SH, MH dengan tema "Mensyukuri Ni'mat Allah"
Pengertian syukur secara harfiah/etimologi ialah “berterima kasih” didlam qur’an. Kata syukur dengan berbagai bentuk ada 74 kali
1. >Asysyukru bil qolby : kepuasan bathin atas sesuatu anugerah.
2. >Asysukru bil lisan misalnya ucapan syukur alhamdulillah memuji Allah dengan ucapan tahmid, tahli dan takbir.
3. >Asysyaukru bil af’al, dengan perbuatan spt mengimfakkan seba gian harta yang di anugerahkan kepada kita dan mematuhi perintah Allah dan mejauhi larangannya.
Allah mengungkapkan kalau kita ingat Allah niscaya Allah mengingat kita, firman-Nya, sbb
þÎTrãä.ø$$sù öNä.öä.ør& (#rãà6ô©$#ur Í< wur Èbrãàÿõ3s? ÇÊÎËÈ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-ku.
Maksudnya: Aku limpahkan rahmat dan ampunan-Ku kepadamu. (Al-Baqoroh ayat 152)
Pada dasarnya, manusia tidak akan mampu mensyukuri nikmat Allah yang begitu banyak dan tak terhitung banyaknya, sebagaimana firman-Nya: "
bÎ)ur (#rãès? spyJ÷èÏR «!$# w !$ydqÝÁøtéB 3 cÎ) ©!$# Öqàÿtós9 ÒOÏm§ ÇÊÑÈ
18. dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya sesungguhnya Allah benar-benar maha pengampun lagimaha penyayang, (QS.An-Nahl [16];18).
Nikmat yang berikan Allah kepada kita antara lain diberinya kita ilmu yang banyak ………………. Tapi bagi Allah itu hanya secuil saja:
Coba perhatikan firman Allah alam Qur’an surat Al-Kahfi ayat 109.
@è% öq©9 tb%x. ãóst7ø9$# #Y#yÏB ÏM»yJÎ=s3Ïj9 În1u yÏÿuZs9 ãóst6ø9$# @ö7s% br& yxÿZs? àM»yJÎ=x. În1u öqs9ur $uZ÷¥Å_ ¾Ï&Î#÷WÏJÎ/ #YytB ÇÊÉÒÈ
109. Katakanlah: sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)".
öqs9ur $yJ¯Rr& Îû ÇÚöF{$# `ÏB >otyfx© ÒO»n=ø%r& ãóst7ø9$#ur ¼çnßJt .`ÏB ¾ÍnÏ÷èt/ èpyèö7y 9çtø2r& $¨B ôNyÏÿtR àM»yJÎ=x. «!$# 3 ¨bÎ) ©!$# îÌtã ÒOÅ3ym ÇËÐÈ
27. Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah[1183]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
[1183] Yang dimaksud dengan kalimat Allah Ialah: ilmu-Nya dan Hikmat-Nya.
Udara yang melimpah ruah di alam ini adalah bukti kasih sayang Allah yang luar biasa. Di dalamnya terdapat sekumpulan gas yang penting bagi manusia diberikan Allah secara cuma-cuma. Tak sepeser pun dipungut biaya dari manusia atas nikmat yang amat penting tersebut. Oleh karenanya, sudah sepantasnyalah manusia bersyukur kepada sang pencipta. Dia-lah Rabb yang mengurus kita di siang dan di malam hari sebagaimana firman Allah:
ö@è% `tB Nà2àsn=õ3t È@ø©9$$Î/ Í$yg¨Y9$#ur z`ÏB Ç`»uH÷q§9$# ÇÍËÈ
Katakanlah siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) yang maha pemurah?’…”(qs al anbiyaa’ 21: 42).
Apabila hamba Allah bersyukur Allah akan menambah nikmatnya, sebagai mana firman-Nya
øÎ)ur c©r's? öNä3/u ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯RyÎV{ ( ûÈõs9ur ÷Länöxÿ2 ¨bÎ) Î1#xtã ÓÏt±s9 ÇÐÈ
7.Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-ku), maka sesungguhnya azab-ku sangat pedih". Q.S. Ibrahim (14) ayat 7.
Kita jangan lupa kenikmatan itu me rupakan cobaan kepada kita, sesuai firman Allah dalam surat An Naml
tA$s% Ï%©!$# ¼çnyZÏã ÒOù=Ïæ z`ÏiB É=»tGÅ3ø9$# O$tRr& y7Ï?#uä ¾ÏmÎ/ @ö6s% br& £s?öt y7øs9Î) y7èùösÛ 4 $£Jn=sù çn#uäu #
É)tGó¡ãB ¼çnyZÏã tA$s%÷& ã
£ #x»yd `ÏB È@ôÒsù În1u þÎTuqè=ö6uÏ9 ãä3ô©r&uä ÷Pr& ãàÿø.r& ( `tBur ts3x© $yJ¯RÎ*sù ãä3ô±o ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 ( `tBur txÿx. ¨bÎ*sù În1u @ÓÍ_xî ×LqÌx. ÇÍÉÈ
Berkatalah seorang yang mempu- nyai ilmu dari ai kitab[1097]: "aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "ini termasuk kurnia tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau kufur/mengingkari (akan nikmat-nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang kufur/ingkar, maka sesungguh- nya tuhanku maha kaya lagi maha mulia" (qs an-naml [27]: 40)

Menurut Syaefudin asisten dosen metabolisme, departemen biokimia, FMIPA Institut Pertanian Bogor, dan para ahli kesehatan menungkapkan seseorang membutuhkan udara dalam yang dihirup dalam sekali bernafas 0,5 liter udara, udara yang dihirup itu terdiri dari oksigen dan nitrogen. Dalam setiap menit kita/manusia bernafas 20 kali dibutuhkan 0,5 liter maka dalam setiap menitnya dibutuhkan10 liter udara, kalau sehari semalam sama dengan 24 jam maka sama dengan 1.440 menit maka udara yang di butuhkan 1.440 x 10 liter sama dengan 14.400 liter.
Untuk diketahui udara yang di hirup manusia terdiri beragama gas yang dominan diantaranya oksigen dan nitrogen dengan perbandingan oksigen 20 % dan nitrogen 79 % yang mengisi udara di sekitar kita, bila perbandigan oksigen dan nitrogen dalam udara yang di hirup manusia sekali bernafas dibutuhkan oksigen 100 ml dan nitrogen 395 ml
Untuk sehari semalam (24 jam) kita butuh menghirup udara yang mengandung oksigen sebanyak 2.880 liter dan nitrogen 11.376 liter dengan rumus sekali bernafas di butuhkan udara menandung:
1. >Oksigen 10 kali 20 % = 2 liter,setiap menit, kalau 24 jam = 1.440 menit, maka 1.440 x 2 l = 2.880 liter.
2. >Nitrogen 10 l x 79 % = 7,9 liter kalau 24 jam = 1.440 menit, 1.440 x 7,9 l =11.376 liter.
kalau kita nilai atau perhitungkan, dengan uang jika harga jual oksigen saat ini Rp. 25.000 perliter dan nitrogen Rp. 36.949,- ( harga nitrogen $ 2,75 per 2,83 liter. maka harga 3,83 x Rp. 36.949,- = Rp. 13.058,- (kurs dollar ke saat ini)
dalam sehari semalam (24 jam) kita butuh menghirup oksigen 2.880 liter x rp. 25.000,- = Rp. 72.000.000,- dan nitrogen, 11.376 liter x rp. 13.058,- = rp. 148,547,808,-
untuk setahun 365 x Rp. 220,547,808.0 = Rp. 80,499,949,920.0
Umur seorang manusia rata rata 60 tahun berapa yang dibutuhkan hitung sendirilah dan perhitungan bagi seseorang yang sehat wal afiat.
Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam dikenal sebagai abdan syakuura (hamba Allah yang banyak bersyukur). Setiap langkah dan tindakan beliau merupakan perwujudan rasa syukurnya kepada Allah. Suatu ketika nabi memengang tangan Muadz Bin Jabal dengan mesra seraya berkata :
"Hai Muadz, demi Allah sesungguh- nya aku amat menyayangimu".
Beliau melanjutkan sabdanya, "Wahai Muadz, aku berpesan, janganlah kamu tinggalkan pada tiap-tiap sehabis shalat berdo'a : Allahumma a'innii `alaa dzikrika wa syukrika wa husni `ibaadatika (ya Allah,tolonglah aku agar senantiasa ingat kepada-mu, mensyukuri nikmat-mu, dan baik dalam beribadat kepada-mu)".
Masihkah kita belum mau bersyukur ? ?
Semoga menjadi renungan kita……….
þÎTrãä.ø$$sù öNä.öä.ør& (#rãà6ô©$#ur Í< wur Èbrãàÿõ3s? ÇÊÎËÈ