Bertempat diruang Kepala Sub Bag Bagian Perencanaan Program dan Anggaran Bapak Muhammad Syahrur Ramadhan, SH. MH.mengikuti Diklat Pelatihan Manajemen Resiko secara daring.

Kegiatan tersebut berdasasrkan surat Kepala Pusdiklat Manajemen dan Kepemimpinan Badan Litbang Kumdil Mahkamah Agung RI nomor 31/ Bld/ DL1.6/ II/ 2024,yang merupakan kegiatan pelatihan manajemen resiko sektor publik

gelombang 1 angkatan 1 tahun 2024. Pelatihan tersebut dilaksanakan selama 5 hari, dimulai pada hari senin, tanggal 19 Februari 2024 sampai dengan 23 Februari 2024 dengan peserta berjumlah 24 orang.

Selengkapnya: Kepala Sub Bagian Perencanaan Program dan Anggaran PTA Medan Mengikuti Diklat Pelatihan Manajemen...

MUHAMMAD SANG AHLI SHOLAT

(Muhammad Sang Inspirator Dunia)

 

Bertempat di Aula Lantai III Pengadilan Tinggi Agama Medan pada hari Senin tanggal  19 Februari 2024, pukul 08.30 Wib. dilaksanakan Kegiatan Pembinaan mental. Sesuai dengan Jadwal pembinaan mental pada hari ini penceramah adalah  Drs. H. Ahmad Musa, M.H., (Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama Medan),  Penceramah mengambil temah adalah “Muhammad Sang Ahli Sholat (Muhammad sang Inspirator dunia)”,  kegiatan ceramah dihadiri oleh seluruh aparatur Pengadilan Tinggi Agama Medan. Pembawa Acara dalam pembinaan mental ini adalah Chamami (Pegawai Pengadilan Tinggi Agama Medan).

Dalam Ceramahnya  penceramah bapak Drs. H. Ahmad Musa, M.H, menyampaikan dalam QS. Hud Ayat 114 114. Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah). Ayat ini diperintahkan melaksanakan salat serta beramal saleh, karena amaliah tersebut dapat menghapus dosa-dosa kecil, sebagaimana firman-Nya: Dan laksanakanlah salat dengan teratur dan benar sesuai dengan ketentuan agama, baik syarat, rukun, dan sunah-sunahnya pada kedua ujung siang, yakni pagi dan petang atau salat Subuh, Zuhur dan Asar dan pada bagian permulaan malam yaitu salat Magrib, Isya, dan salat sunah seperti tahajud dan witir. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu seperti salat sebagaimana disebutkan di atas, zakat, sedekah, zikir, istigfar, dan amal ibadah lainnya dapat menghapus kesalahan-kesalahan dan dosadosa kecil yang telah dilakukan, lantaran perbuatan itu tidak mudah dihindari. Adapun dosa besar, harus disertai dengan tobat yang tulus. Itulah peringatan yang sangat bermanfaat bagi orang-orang yang siap menerimanya dan selalu mengingat Allah.

Dalam mengerjakan shalat janganlah kita sekedar jadi tukan shalat tetapi hendaklah menjadi ahli shalat.  Yang dimaksud ahli shalat adalah memahami dan mengetahui maksud apa yang dibaca dan apa yang dikerjakan,  memperhatikan syarat rukun dan ketentuan-ketentuan shalat lainnya. Maka,kalau tidak memahami dan memperhatikan hal tersebut atau sekedar jadi tukang shalat, maka yang diperoleh hanyalah payah dan letih. 

Rasulullah SAW pernah bersabda : ''Akan datang pada manusia (umat Muhammad) suatu zaman, banyak orang yang merasakan dirinya shalat, padahal mereka sebenarnya tidak shalat.''(HR Ahmad). 

Rasulullah juga bersabda : ''Berapa banyak orang yang shalat, keuntungan yang diperoleh hanyalah payah dan letih.'' (HR Ibnu Majah).

Alhamdulillah, hampir semua kita melaksanakan shalat fardhu lima waktu dalam sehari semalam. Jika kita analogikan bahwa shalat yang kita “bangun” itu adalah ibarat rumah yang sedang dibangun, maka apakah setiap kita yang melaksanakan shalat fardhu lima waktu sehari semalam mendapat imbalan yang sama disisi Allah?

Jawabanny sebagian dari kita mungkin masih jadi “Tukang Shalat”, yaitu orang yang melaksanakan shalat sekedarnya saja, sekedar gugur kewajiban agama, sekedar memenuhi perintah, sekedar menunaikan kewajiban, sekedar mengejar bilangan shalat lima waktu, tapi belum tahu esensi shalat yang sesungguhnya, kita belum tahu untuk apa fungsi dan peran shalat sekarang dan nantinya, kita belum tahu kadar kebenaran dan diterima tidaknya shalat kita, benar tidaknya bacaan shalat kita, karena kita memang sekedar “Tukang Shalat”. jadilah seorang Ahli sholat, yang benar-benar tahu apa yang akan kita kerjakan, bukan hanya shalat, tapi juga ibadah-ibadah lainnya, misalnya puasa, jadilah Ahli puasa yang mengerti esensi dan fungsi puasa sebagai pembentuk pribadi mutaqqin, misalnya lagi zakat, yang secara esensi sebagai pembersih harta dan jiwa kita, dan ibadah-ibadah lainnya.

Semoga Allah menuntun kita menjadi orang-orang yang “Ahli Ibadah” bukan sekedar “Tukang Ibadah”. Amin.

Demikian Acara Pembinaan Mental ini dilaksanakan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

(Jas).

           

 

Bertempat di Aula Lantai III Pengadilan Tinggi Agama Medan, pada hari  Kamis tanggal 15 Februari 2024 di mulai pukul 10.00 Wib dilaksanakan Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Ketua Pengadilan Agama Kabanjahe atas nama Ridho Setiawan, S.H.I., M.E.Sy. berdasarkan Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung R.I. Nomor 38/KMA/SK.KP4.1.3/I/2024 tanggal 29 Januari 2024 yang dihadiri oleh seluruh Aparatur Pengadilan Tinggi Agama Medan dan Panitera, Sekretaris dan para pejabat Pengadilan Agama Kabanjahe. Pejabat yang melantik dan mengambil sumpah adalah Dr. H. Zulkifli Yus, M.H. (Ketua Tinggi Pengadilan Tinggi Agama Medan).

Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Mahkamah Agung dan dilanjutkan dengan pelantikan Ketua Pengadilan Agama Kabanjahe. Kemudia acara dilanjutkan dengan pengambilan sumpah Jabatan Ketua Pengadilan Agama Kabanjahe dengan diikuti  pemasangan kalung Jabatan oleh Ketua Pengadilan Tinggi Agama Medan.

Setelah Pelantikan dan Pengambilan Sumpah tersebut acara dilanjutkan dengan bimbingan dan arahan oleh Ketua Pengadilan Tinggi Agama Medan, pertama-tama menyampaikan  ucapan selamat kepada Bapak Ridho Setiawan, S.H.I., M.E.Sy. yang baru dilantik sebagai Ketua Pengadilan Agama Kabanjahe dan berharap dapat melaksanakan tugasnya sebagai Ketua Pengadilan Agama Kabanjahe serta membawa spirit baru bagi Pengadilan Agama Kabanjahe, baik secara internal maupun eksternal khususnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat pencari keadilan. Kemudian Ketua PTA.Medan juga menyampaikan agar selalu menjaga Lingkungan kerja yang aman dan sehat tentu dapat membantu bekerja dalam meningkatkan efisiensi dan produktifitas dalam melaksanakan pekerjaan. Namun sebaliknya, jika lingkungan kerja tidak terorganisasi dengan baik serta banyak faktor yang berbahaya maka pekerja akan menimbulkan efek buruk bagi pekerja. Meningkatkan pelaksanaan tugas dan prestasi kerja merupakan suatu keharusan bagi kita semua.

Terakhir Ketua PTA. Medan menyampaikan Undang-undang mewajibkan bagi setiap Ketua Pengadilan untuk melaksanakan permohonanan eksekusi terhadap putusan yang telah mempunyai  kekuatan hukum tetap, guna mewujudkan kepastian hukum yang berkeadilan bagi masyarakat. Sangat ironis bila masyarakat pencari keadilan yang memperjuangkan haknya dengan cara mengajukan gugatan perdata di Pengadilan, yang sangat menyita waktu, tenaga dan biaya, ternyata hanya memperoleh kemenangan di atas kertas, dan tidak dapat menikmati hasil perjuangannya (kemenangannya). Oleh karena itu, dalam konteks upaya menjaga “marwah, nilai dan kewibawaan” setiap putusan pengadilan, agar tidak meredup karena kepercayaan masyarakat tidak terlayani, maka kita harus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan hukum kepada masyarakat, dalm hal ini pelayanan di bidang eksekusi. Masalah eksekusi.

Acara diakhiri dengan pembacaan Doa’ dari Rohaniawan yang berasal dari Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara.

Demikian  Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan  Ketua Pengadilan Agama Kabanjahe ini dilaksanakan, semoga kedepan lebih sukses lagi.

 (Jas).

           

 

Di hari Rabu tanggal 07 Februari 2024, Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Medan melepaskan 2 personil tangguh yang selama ini bertugas pada sub bag kepaniteraan Banding pada Pengadilan Tinggi Agama Medan lebih kurang 2 tahun yakni Ryani Junisha Ayulin SH dan Fadilah Anggi Winanda SH yang merupakan formasi Analis Perkara Peradilan yang telah lulus calon Hakim pada Pengadilan Negeri Medan dan Pengadilan Agama Tangerang berdasarkan surat Kepala Badan Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI Nomor : 22/BLD/SK.BL.1.6/I/2024 tentang Penetapan Calon Hakim Peradilan.

Kedua orang tersebut telah bertugas pada Pengadilan Tinggi Agama Medan mulai dari CPNS dan selanjutnya dilantik menjadi PNS lebih kurang 2 tahun mengabdi pada Pengadilan Tinggi Agama Medan sampai dengan  Pengadilan Tinggi Agama Medan mendapatkan predikat WBK pada tahun 2022 yang lalu. Selain itu pergaulan mereka kepada seluruh ASN dan Pejabat selama bertugas dianggap sangat berkesan terutama pada sub bagian Kepaniteraan.

Di detik-detik terakhir ini, mereka berpamit kepada seluruh ASN dan Pejabat Pengadilan Tinggi Agama Medan yang diterima langsung oleh Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Medan YM Drs. H. Alaidin, MH selaku mewakili Pimpinan dan keluarga besar Pengadilan Tinggi Agama Medan untuk melepas tugas keduanya yang akan bertugas ditempat yang baru.

Adapun pesan Pimpinan dalam hal ini Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Medan untuk keduanya adalah “agar mereka dapat melaksanakan tugas dengan baik ditempat tugas yang baru, tunjukanlah bahwa mereka menjadi duta Pengadilan Tinggi Agama Medan yang berintegritas, disiplin dan profesional serta tetap dijaga silaturahmi dengan keluarga besar Pengadilan Tinggi Agama Medan.

Ditengah-tengah pamitan tersebut, keduanya sempat berfoto bersama dengan Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Medan. Selamat bertugas ditempat yang baru untuk Riani Junisha Ayulin dan Fadilah Anggi Winanda, teriring pantun untuk melepas keduanya.

“Menyusun pantun memakai rima

Rima dibuat menjadi kisah

Bertahun-tahun sekantor bersama

Tibalah masa untuk berpisah.."

 

"Jangan tebang kayu yang basah

Buat masak tak akan beres

Selamat jalan untuk Ulin dan Anggi, selamat berpisah,..

Semoga semuanya semakin sukses.."

Bertempat di Aula Lantai III Pengadilan Tinggi Agama Medan pada hari Senin tanggal 29 Januari 2024, pukul 08.30 Wib. dilaksanakan Kegiatan Pembinaan mental. Sesuai dengan Jadwal pembinaan mental pada hari ini penceramah adalah Drs. H. Zulkifli Siregar, S.H., M.H., (Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama Medan), Penceramah mengambil temah adalah “Surat Al Ma’un (Orang-orang yang mendustakan agama)”, kegiatan ceramah dihadiri oleh seluruh aparatur Pengadilan Tinggi Agama Medan dan mahasiswa-mahasis magang dari Universitas Pambangunan Panca Budi. Pembawa Acara dalam pembinaan mental ini adalah Drs. Rizal Siregar, S.H.. (Panitera Pengganti Pengadilan Tinggi Agama Medan).

Dalam Ceramahnya penceramah bapak Drs. H. Zulkifli Siregar, S.H., M.H., menyampaikan yang terkandung dalam Surat Al Ma’un. Pertama tama pencerama menyampaikan arti dari surat Al Ma’un “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.
Surat Al Maun ayat 1
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
Kata yukadzdzibu artinya adalah mendustakan atau mengingkari. Ia bisa berupa sikap batin, bisa pula berupa sikap lahir yang tampak dalam perbuatan.

Kata ad din secara bahasa bisa berarti agama, kepatuhan, atau pembalasan. Dalam ayat ini, ad din sering diartikan agama. Namun ia juga berarti pembalasan karena seringkali Al-Qur’an ketika menggandengkan yukaddzibu dengan ad din artinya adalah mendustakan hari pembalasan (kiamat).
Ibnu Katsir termasuk mufassir yang memaknai ad diin dengan hari pembalasan. Sehingga makna ayat ini, tahukah engkau, hai Muhammad, orang yang mendustakan agama dan mendustakan hari pembalasan?

Surat Al Maun ayat 2
Itulah orang yang menghardik anak yatim,
Kata dzalika digunakan untuk menunjuk kepada sesuatu yang jauh. Dzalika di sini memberi kesan betapa jauhnya orang itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kata yadu’u artinya mendorong dengan keras. Namun maknanya tak selalu dorongan fisik, namun juga mencakup segala penganiayaan dan gangguan.
Al yatim berasal dari kata yutm yang artinya kesendirian. Permata yang indah dan tak ada bandingannya disebut ad durrah al yatiimah. Pada manusia, yatim digunakan untuk anak yang belum dewasa dan ayahnya telah wafat.
Ibnu Katsir menjelaskan, orang yang mendustakan agama dan mendustakan hari pembalasan itu adalah orang yang berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim, menganiaya haknya dan tidak memberinya makan serta tidak memperlakukannya dengan perlakuan yang baik.

Surat Al Maun ayat 3
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
Kata yakhudldlu artinya adalah menganjurkan. Kalaupun tidak memiliki apa-apa, seseorang dituntut minimal menjadi orang yang menganjurkan untuk memberi makan kepada orang miskin.
Kata tho’am berarti makanan atau pangan. Ayat ini tidak menggunakan kata ith’am yang artinya memberi makan, agar setiap orang yang melakukannya tidak merasa dirinya telah memberi makan. Namun ia hanya memberikan makanan yang pada hakikatnya bukan miliknya melainkan hak orang-orang miskin itu.
Dua ayat yang menjelaskan karakter pendusta agama ini senada dengan firman-Nya:
Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, (QS. Al Fajr: 17-18)

Surat Al Maun ayat 4
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
Huruf fa pada ayat ini menggabungkan tiga ayat pertama dengan ayat ini dan ayat-ayat berikutnya. Bahwa orang-orang yang mendustakan agama dan hari pembalasan, selain mereka suka menghardik anak yatim dan tidak mau memberi makan orang miskin, mereka juga dihinggapi penyakit riya’.
Karenanya banyak ulama yang tidak sependapat jika surat Al Maun diturunkan terpisah, tiga ayat pertama di Makkah dan empat ayat terakhir di Madinah. Namun surat ini diturunkan sekaligus jika memperhatikan rangkaian ayatnya yang membentuk satu kesatuan.
Kata wail artinya adalah kebinasaan atau kecelakaan, yang menimpa akibat pelanggaran atau kedurhakaan.
Al mushalliin biasa diartikan orang-orang yang shalat. Namun dalam ayat ini, sholatnya tidak sempurna karena tidak didahului dengan kata yang seakar dengan aqimu. Penjelasannya ada pada ayat berikutnya. Sehingga tidak boleh membaca ayat ini berhenti di sini. Ia menggunakan waqaf lazim yang harus dilanjutkan dengan ayat berikutnya sebagai penjelasan.
Menurut Ibnu Abbas, al mushalliin yang celaka pada ayat ini adalah orang yang sudah berkewajiban shalat namun mereka melalaikannya. Menurut Masruq, maksudnya adalah orang yang mengerjakan shalat bukan pada waktunya. Sedangkan menurut Atha Ibnu Dinar, maksudnya adalah orang yang menunda-nunda shalatnya.

Surat Al Maun ayat 5
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
Kata ‘an berarti tentang atau menyangkut. Jika ayat ini menggunakan kata fi, ia berarti kecaman terhadap orang yang lalai dalam shalatnya dalam arti tidak khusyu’. Namun ayat ini menggunakan kata ‘an sehingga ia adalah kecaman terhadap orang yang lalai dari esensi makna dan tujuan shalat.
Kata saahuun artinya berasal dari kata sahaa yang artinya lupa atau lalai. Yaitu seseorang yang hatinya menuju kepada sesuatu yang lain sehingga melalaikan tujuan utamanya.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud dalam Surat Al Maun ayat 4-6 ini adalah orang-orang munafik. Mereka mengerjakan shalat saat bersama orang lain namun tidak mengerjakannya ketika sendirian.
“Mereka mengerjakan shalat tetapi tidak menegakkan shalat. Mereka menunaikan gerakan-gerakan shalat dan mengucapkan bacaan sholat, tapi hati mereka tidak hidup bersama shalat dan tidak hidup dengannya,” tulis Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zilalil Quran. “Ruh-ruh mereka tidak menghadirkan hakikat shalat dan hakikat bacaan-bacaan, doa-doa dan zikir yang ada dalam shalat, mereka melakukan shalat hanya untuk dipuji orang lain, bukan ikhlas karena Allah.”

Surat Al Maun ayat 6
orang-orang yang berbuat riya
Kata yuroo’uun berasal dari kata ra’a yang artinya adalah melihat. Dari akar kata yang sama, lahir kata riya’. Yaitu orang yang melakukan pekerjaan sambil melihat manusia sehingga jika tak ada yang melihatnya, mereka tidak melakukan pekerjaan itu. Secara istilah, riya’ berarti melakukan suatu pekerjaan bukan karena Allah tetapi untuk mendapatkan pujian dan popularitas.
Yang paling terkena ayat ini adalah orang-orang munafik. Namun kita juga harus waspada jika ada riya’ dalam diri kita.

Surat Al Maun ayat 7
dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
Kata al maa’uun berasal dari kata al ma’n yang artinya sedikit. Ia juga bisa berasal dari kata ma’unah yang artinya bantuan, dengan mengganti ta’ marbuthah dengan alif dan diletakkan sesudah mim. Sehingga al maa’uun adalah sedikit bantuan yang berguna.
Menurut Ali bin Abu Thalib, al maa’uun adalah zakat. Sebagian sahabat Nabi mengatakan al maa’uun adalah sedekah. Ibnu Mas’ud mengatakan al maa’uun adalah barang yang biasa dipinjam seperti panci. Sedangkan Mujahid mengatakan maknanya adalah peralatan rumah tangga.
Ikrimah merangkum semua pendapat itu. Ia menjelaskan bahwa puncak al maa’uun adalah zakat mal sedangkan yang paling rendah adalah meminjamkan ayakan, timba dan jarum. Pendapat ini pula yang dipilih Ibnu Katsir.
Ibnu Katsir menjelaskan, mereka adalah orang-orang yang tidak beribadah kepada Allah dengan baik, juga tidak mau berbuat baik kepada sesama manusia. Tidak mau menolong orang lain, bahkan tidak mau meminjamkan sesuatu kepada orang lain meskipun barang itu akan kembali dalam kondisi utuh. Mereka juga menolak zakat.

Demikian Acara Pembinaan Mental ini dilaksanakan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.
(Jas).

 

 

 

  • 779-s-alaidin.jpg
  • 780-s-sahrudin.jpg
  • 781-s-fakhruddin.jpg
  • 782-s-mnasri.jpg
  • 783-s-arief.jpg
  • 784-s-tiwi.jpg
  • 785-s-anang.jpg
  • 786-s-ramadhan.jpg