Ketua Pengadilan Tinggi Agama Medan Lantik Panmud Banding dan Kepala Subbag Umum



Bertempat di Aula Pengadilan Tinggi Agama Medan, pada tanggal 29 Juli 2015 pukul 11.00 WIB, Pengadilan Tinggi Agama Medan gelar acara Pelantikan Panmud Banding dan Kepala Subbagian Umum.

Panmud Banding PTA Medan adalah Bapak Amrani, SH, MM yang sebelumnya adalah Panitera/Sekretaris Pengadilan Agama Tebing Tinggi. Sedangkan Kepala Subbag Umum PTA Medan adalah Bapak Muhammad Nasri, SH yang sebelumnya adalah Kepala Subbag Umum Pengadilan Agama Medan.
Acara pelantikan dihadiri oleh pimpinan, hakim tinggi, pejabat struktural dan fungsional serta seluruh pegawai Pengadilan Tinggi Agama Medan. Hadir pula ketua Pengadilan Agama Medan dan rombongan beserta Ketua Pengadilan Agama Tebing Tinggi dan rombongan.

Setelah sumpah jabatan dan pelantikan, dilanjutkan dengan bimbingan dan arahan oleh Ketua Pengadilan Tinggi Agama Medan, Drs. H. Moh. Thahir, SH, MH. Beliau secara langsung memberikan selamat kepada kedua pejabat yang baru dilantik, Pak Amrani dan Pak Nasri.

Dalam amanahnya, Pak Ketua menyampaikan bahwa tugas Panmud Banding antara lain mengelola manajemen perkara pada tingkat banding, dalam hal ini administrasi perkara dan administrasi persidangan. Tugas administrasi perkara banding tidak terhenti pada tingkat banding, tetapi sampai pada pemantauan perkara Kasasi dan Peninjauan Kembali. Selain itu, minutasi dan pengarsipan perkara tidak terlepas dari pemantauan panmud banding, jangan sampai ada berkas perkara yang hilang sebelum masuk arsip. Tidak lupa pula untuk publikasi dan statistik perkara Banding, harus ada komunikasi yg baik dengan Panmud hukum. Harus tercipta kerjasama yang baik dalam internal Pengadilan Tinggi Agama Medan agar dapat membina dan mengawasi pengadilan tingkat pertama dengan baik dan benar.

Kepada Kasubbag Umum, Pak Ketua berpesan bahwa subbagian Umum adalah dapurnya kegiatan administrasi umum. Rotasi masuk dan kelurnya surat-menyurat berada pada bagian umum. Statistik surat, e-document surat masuk ataupun keluar harus ada, disamping pengarsipan manual juga belum bisa ditinggalkan. Subbagian Umum juga mengelola BMN, SIMAK/SIMAS harus sudah terintegrasi dengan SIMARI, Subbagian Umum juga tidak semata mengelola pada tingkat Banding tetapi juga melakukan input dan pengawasan terhadap BMN 4 peradilan se Sumatera Utara (sebagai Korwil). Selain itu, subbagian Umum juga berkewajiban melakukan pelaporan BMN, opname barang, penghapusan dan pelelangan, yang tentunya terkait dengan instansi lain seperti KPKNL.

Setelah pembacaan doa oleh Bapak Drs. H. Syofyan Sauri, SH, MH, acara ditutup dengan foto bersama dan ucapan selamat.

Usai Ramadhan 1436 H Pengadilan Tinggi Agama Medan Gelar Halal Bi Halal


Tak terasa Idul Fitri 1436 H sudah berlalu, namun kemenangannya tentu saja masih terasa. Pada tanggal 22 Juli 2015 atau 6 Syawal 1436 H, hari pertama kerja setelah libur Idul Fitri dan cuti bersama, Pengadilan Tinggi Agama Medan menggelar halal bi halal dalam rangka mempererat tali silaturahim dan bermaaf-maafan.

Acara dihadiri oleh Wakil Ketua, seluruh Hakim Tinggi beserta istri, pejabat dan pegawai, pegawai honorer Pengadilan Tinggi Agama Medan serta adik-adik PKL. Hadir pula dalam acara tersebut beberapa Ketua, Wakil Ketua dan Pansek dari Pengadilan Agama yang terdekat.

Dalam sambutannya, Ketua Pengadilan Tinggi Agama Medan, Bapak Drs. H. Moh. Thahir, SH, MH menyampaikan permohonan maaf selaku pimpinan dan juga atas nama keluarga. Selain itu beliau berharap agar kebersamaan yang telah terjadi selama ini di lingkungan Pengadilan Tinggi Agama Medan dapat dipertahankan dan ditingkatkan untuk masa yang akan datang.

Lebih lanjut beliau pun berharap agar nilai-nilai ramadhan akan membawa dampak kebaikan dan prestasi kerja yang semakin gemilang.

 

Acara ditutup dengan pembacaan doa oleh Bapak Drs. H. Syofyan Sauri, SH, MH dan salam-salaman tanda saling bermaaf-maafan.

Taqabbalallahu minna wa minkum wa ja’alana minal ‘aidin wal faidzin. Semoga Allah menerima puasa kita dan menjadikan kita kembali (dalam keadaan suci) dan termasuk orang-orang yang mendapatkan kemenangan. (SA)

 

Berbagi Penali Kasih Kepada Pegawai Honorer Pengadilan Tinggi Agama Medan

  

 Idul Fitri 1436 H sebentar lagi. Kurang indah terasa jika tak saling berbagi. Pada kesempatan Ramadhan tahun ini, sama juga seperti tahun lalu, Pejabat dan Pegawai PTA Medan mebagikan Penali Kasih kepada Pegawai Honorer PTA Medan.

Pada pertemuan yang diadakan di Ruang Rapat Pengadilan Tinggi Agama Medan pada tanggal 10 Juli 2015 ini, dihadiri oleh Ketua, Pansek, Wasek, Bendahara dan seluruh Pegawai Honorer PTA Medan. Dalam bimbingannya, Pak Ketua Pengadilan Tinggi Agama Medan, Drs. H. Moh. Thahir, SH, MH, menyampaikan agar seluruh pegawai honorer meningkatkan kualitas dan disiplin kerja. Beliau juga berharap agar antara pejabat dan pegawai honorer saling menjaga tali silaturahim, boleh segan tapi jangan tidak saling menyapa. Akhir kata beliau berharap agar Penali Kasih yang dibagikan ini bermanfaat dan membawa berkah kepada yang memberi dan menerimanya.

Acara ditutup dengan salam-salaman dan pembagian Penali Kasih kepada masing-masing pegawai honorer. (ty)

Pengadilan Tinggi Agama Medan Gelar Acara Buka Puasa Bersama

Pada tanggal 6 Juli 2015 atau bertepatan pada Ramadhan ke-19 1436H, Pengadilan Tinggi Agama Medan gelar acara buka puasa bersama. Acara dimulai pukul 17.00 wib dan dihadiri oleh Wakil Ketua, seluruh Hakim Tinggi beserta isitri, seluruh pejabat dan pegawai PTA Medan, Ketua dan Panitera/Sekretaris Pengadilan Agama se Sumut, dan para undangan lainnya.

Acara dibuka pertama kali dengan doa oleh Panitera Pengganti PTA Medan, Bapak Drs. H. Syofyan Sauri, SH dan pembacaan ayat Al-Quran yang dilantunkan oleh Panitera/ Sekretaris Pengadilan Agama Medan, Bapak Drs. H. Abd. Khalik, SH.

Kemudian dilanjutkan sambutan dari Ketua PTA Medan, Bapak Drs. H. Moh. Thahir, SH, MH. Dalam sambutannya beliau menyampaikan beberapa keutamaan dalam ibadah, terutama shadaqah dan zakat fitrah.



Dalam kesempatan tersebut, Pak Ketua memberikan Zakat dari para pejabat dan pegawai PTA Medan kepada Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Sumatera Utarayang diwakili oleh Bapak Drs. H. Syu’aibun, M.Hum.

Azan telah berkumandang, sebelum shalat Maghrib berjamaah, para undangan membatalkan puasa terlebih dahulu dengan menyantap ta’jil yang telah dihidangkan panitia.

Acara ditutup setelah makan malam. (SA/Ty)

 

Keutamaan Dalam Mengakhiri Ramadhan dan Menyambut Syawal
Oleh : Zulkifli Yus

Ibadah puasa merupakan suatu ibadah yang mempunyai makna tersendiri bagi kaum muslimin, khususnya bagi orang-orang yang beriman, karena pada bulan yang penuh barakah tersebut orang-orang beriman mempunyai kesempatan untuk melaksanakan ibadah secara lebih daripada bulan-bulan yang lain, seperti shalat tarawih dan witir, tadarus Al-Qur’an menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, serta ibadah sadaqah bagi kaum fakir dan miskin. Selain itu pada bulan Ramadhan tersebut pahalanya juga dilipat gandakan oleh Allah SWTdibandingkan dengan pada bulan-bulan yang lain.

Syiar agama pada bulan Ramadhan terlihat lebih semarak, pada bulan Ramadhan Mesjid dan Mushalla dipenuhi dengan kaum muslimin yang beribadah, baik shalat wajib, shalat sunnah, i’ktikaf dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.

Pada akhir bulan Ramadhan kaum muslimin mulai disibukkan dengan persiapan menyambut hari kemenangan yakni hari raya Idul Fithri. Persiapan tersebut mulai dari menyediakan berbagai macam pakaian dan makanan, juga memperindah rumah sehingga nampak keindahan yang asri dan tertata. Juga banyak dari kaum muslimin yang beramai-ramai mudik ke kampung halamannya untuk berhari raya atau berIdul Fithri bersama keluarga dan sanak saudara di kampung halaman. Ini semua merupakan perwujudan dari rasa syukur dan kegembiraan kaum muslimin setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan dan memperoleh kemenangan dan memperoleh prediket sebagai orang muttaqien.

Menghadapi akhir bulan Ramadhan dan menyambut hari Idul Fitri, Allah SWT berfirman :


وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya : Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur(QS Al Baqarah: 185).

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah SWT menghendaki agar yang utama sekali ketika kita berada diakhir bulan Ramadhan dan memasuki bulan Syawal, perlu memperhatikan kesempurnaan ibadah puasa kita, agar tetap selama satu bulan penuh. Tentunya harus dijaga dari awal Ramadhan sampai dengan akhir Ramadhan agar puasa Ramadhan kita utuh dan penuh tanpa ada bolongnya, bagi orang-orang yang sakit, atau dalam perjalanan (musafir), ada keringanan untuk tidak berpuasa dengan mengantikannya pada hari yang lain.

Orang-orang yang berpuasa akan mengharapkan keredhaan dari Allah SWT atas segala amal kebajikan yang diperbuatnya, dan dia meyakini bahwa Allah akan menerima amal dari orang-orang yang bertaqwa, karena hanya orang yang bertaqwa sajalah yang mampu memberikan atau beramal semata-mata karena Allah, bukan karena mengharapkan pujian orang atau keuntungan secara materil, hal ini sebagaiamana Firman Allah SWT :

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Artinya : Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa.(Q.S Al Maidah :27)

Mereka akan selalu berusaha untuk menjadi orang yang beruntung dengan mensucikan dirinya, berzikir kepada Allah dan juga pada saat hari Idul Fithri menunaikan shalat (shalat Ied) sebagaimana Firman Allah SWT :

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Rabbnya, lalu dia shalat. (QS. Al A’la : 14 - 15)

Dengan demikian pada saat kita mengakhiri bulan ramadhan maka kita perlu menjaga dan mengamalkan ayat 105 dari Surat Al-Baqarah tersebut yakni:

  1. Mencukupkan bilangan puasa Ramadhan tersebut selama satu bulan penuh, dengan menjaga puasa kita sejak awal Ramdhan sampai akhir Ramadhan dari hal-hal yang membatalkan atau mengurangi kesempurnaan ibadah puasa kita.
  2. Mengagungkan Allah atas petunjuknya yang diberikan kepada kita dengan mensyiarkan keagungan Asma Allah dengan bertakbir, bertahlil dan bertahmid memuni Allah dengan segala kebesaran dan keagungannya pada malam Idul Fitri tersebut.
  3. Menjadi orang bersyukur karena telah mendapat hidayah dari Allah SWT. Orang yang bersyukur adalah orang yang memahami betapa besarnya rahmat Allah yang telah diberikan kepadanya.

Makna mensyukuri pada ayat tersebut adalah:
1. Bersyukur karena telah dipertemukan dengan Ramadhan oleh Allah SWT.
Bertemu dengan bulan Ramadhan adalah suatu kenikmatan besar bagi orang-orang yang beriman, karena ibadah puasa Ramadhan diberikan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah : 183 :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 


Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.
Mendapat peringkat taqwa adalah memperoleh penghargaan yang paling tinggi di sisi Allah SWT, karena orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling taqwa kepada Allah sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat Al Hujarat ayat 13 :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal

Dengan demikian orang yang bertaqwa akan menyadari bahwa dirinya merupakan orang yang dimuliakan oleh Allah SWT, tentunya tidak akan mengingkari segala perintah Allah SWT dan akan selalu menjauhi larangan Allah SWT baik secara sembunyi ataupun secara terang-terangan. Hal ini bisa diibaratkan dalam kehidupan dunia, jika seorang sangat dimuliakan oleh masyarakat, atau oleh rajanya atau pemimpinnya tentu dia tidak akan mau mengecewakan orang yang memuliakannya atau menghormatinya itu, biar bagaimanapun keadaannya.

2. Bersyukur karena telah dapat menikmati kegembiraan ketika berbuka puasa.
Berbuka puasa merupakan suatu kenikmatan dan kegembiraan yang luar biasa bagi orang berpuasa karena mengharapkan ridha Allah SWT, apalagi ketika kita berbuka pada saat melihat hilal bulan Syawal, terasa sangat gembira karena telah keluar sebagai pemenang dalam perang besar yakni perang melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan. Apalagi kegembiraan yang akan diperoleh oleh orang yang berpuasa pada hari akhirat kelak yakni dapat bertemu dengan Allah SWT.

3. Bersyukur karena telah mendapat kesempatan beribadah pada malam lailatul qadar.
Mendapat kesempatan beribadah pada malam lailatul qadr adalah impian dan cita-cita setiap orang yang berpuasa, karena nilainya lebih dari dari seribu bulan. Karenanya banyak sekali kaum muslimin yang pada malam-malam Ramadhan terutama di sepuluh yang terakhir dari bulan ramadhan meningkatkan amal ibadahnya, untuk mendapatkan kesempatan beribadah di malam lailatul qadr.

4. Bersyukur karena mendapat hidayah untuk beribadah dalam puasa ramadhan.
Mendapat hidayah berpuasa merupakan suatu keberuntungan besar bagi orang mukmin, dimana kita lihat banya orang yang seagama dengannya, malahan tidak melaksanakan ibadah puasa tanpa ada suatu uzur atau halangan untuk tidak berpuasa. Hal ini terjadi karena sebagian orang tidak berpuasa karena hanya melihat bahwa puasa itu suatu ibadah yang sia-sia, pada dalam ibadah puasa terkandung pahala yang besar, bahkan bermanfaat bagi kesehatan yang berpuasa. Tanpa hidayah dari Allah SWT orang tidak akan mendapat manfaat dan kenikmatan dalam berpuasa, kalaupun ia berpuasa maka ia hanya memperoleh lapar dan haus semata.

5. Berpuasa akan menciptakan kepribadian yang kuat dan peka terhadap berbagai kondisi sosial disekitar dan dalam kehidupan kita.
Ibadah puasa mengajarkan tentang arti dari kehidupan, dimana dalam kehidupan ini masih banyak orang yang hidup dibawah garis kemiskinan atau kurang mampu, yang dengan kondisi ekonominya mereka sering merasakan lapar karena tidak mempunyai makanan untuk dimakan, sementara orang yang berkemampuan memiliki makanan dan minuman yang berlebih dari kebutuhannya.

Dengan melaksanakan ibadah puasa selain mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT, orang yang berkemampuan akan dapat merasakan penderitaan yang dirasakan oleh mereka yang miskin dan tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan, karena orang yang mempunyai makanan yang cukup diajarkan oleh Allah SWT melalui ibadah puasa untuk tidak menyentuh atau memakan makanan tersebut sejak waktu imsak sampai dengan waktu azan magrib, padahal makanan dan minuman yang dimilikinya adalah miliknya sendiri dari usahanya yang halal.

Melalui pendidikan yang seperti itu, ibadah puasa mengajarkan kepada manusia yakni orang-orang yang beriman untuk dapat mengendalikan hawa nafsunya, karena hawa nafsu yang tidak terkendali akan menjadikan manusia serakah, hubbud dunia yang berlebihan, bahkan mengantarkan manusia kepada berprilaku dhlaim dan aniaya kepada manusia dan makhluk Tuhan lainnya.

Dengan demikian dengan melaksanakan ibadah puasa diharapkan manusia yang beriman menjadi orang yang bertaqwa, mematuhi segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya dengan menyadari bahwa semua yang kita perbuat adalah diketahuiNya meskipun manusia lain tidak mengetahui perbuatan jahat kita. Ibadah puasa juga mengajarkan manusia untuk mempunyai kepekaan sosial yang tinggi terhadap sesama terutama terhadap kalangan yang tidak mampu. Karenanya dengan berakhirnya Ramadhan dan datangnya hari kemenangan Idul Fithri dapat mengekalkan identitas kita sebagai orang yang bertaqwa dan mempunyai keperdulian sosial yang tinggi. Amin.

  • 806_armen.jpg
  • 807_miharza.jpg