Keutamaan Dalam Mengakhiri Ramadhan dan Menyambut Syawal
Oleh : Zulkifli Yus

Ibadah puasa merupakan suatu ibadah yang mempunyai makna tersendiri bagi kaum muslimin, khususnya bagi orang-orang yang beriman, karena pada bulan yang penuh barakah tersebut orang-orang beriman mempunyai kesempatan untuk melaksanakan ibadah secara lebih daripada bulan-bulan yang lain, seperti shalat tarawih dan witir, tadarus Al-Qur’an menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, serta ibadah sadaqah bagi kaum fakir dan miskin. Selain itu pada bulan Ramadhan tersebut pahalanya juga dilipat gandakan oleh Allah SWTdibandingkan dengan pada bulan-bulan yang lain.
Syiar agama pada bulan Ramadhan terlihat lebih semarak, pada bulan Ramadhan Mesjid dan Mushalla dipenuhi dengan kaum muslimin yang beribadah, baik shalat wajib, shalat sunnah, i’ktikaf dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
Pada akhir bulan Ramadhan kaum muslimin mulai disibukkan dengan persiapan menyambut hari kemenangan yakni hari raya Idul Fithri. Persiapan tersebut mulai dari menyediakan berbagai macam pakaian dan makanan, juga memperindah rumah sehingga nampak keindahan yang asri dan tertata. Juga banyak dari kaum muslimin yang beramai-ramai mudik ke kampung halamannya untuk berhari raya atau berIdul Fithri bersama keluarga dan sanak saudara di kampung halaman. Ini semua merupakan perwujudan dari rasa syukur dan kegembiraan kaum muslimin setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan dan memperoleh kemenangan dan memperoleh prediket sebagai orang muttaqien.
Menghadapi akhir bulan Ramadhan dan menyambut hari Idul Fitri, Allah SWT berfirman :
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya : Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur(QS Al Baqarah: 185).
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah SWT menghendaki agar yang utama sekali ketika kita berada diakhir bulan Ramadhan dan memasuki bulan Syawal, perlu memperhatikan kesempurnaan ibadah puasa kita, agar tetap selama satu bulan penuh. Tentunya harus dijaga dari awal Ramadhan sampai dengan akhir Ramadhan agar puasa Ramadhan kita utuh dan penuh tanpa ada bolongnya, bagi orang-orang yang sakit, atau dalam perjalanan (musafir), ada keringanan untuk tidak berpuasa dengan mengantikannya pada hari yang lain.
Orang-orang yang berpuasa akan mengharapkan keredhaan dari Allah SWT atas segala amal kebajikan yang diperbuatnya, dan dia meyakini bahwa Allah akan menerima amal dari orang-orang yang bertaqwa, karena hanya orang yang bertaqwa sajalah yang mampu memberikan atau beramal semata-mata karena Allah, bukan karena mengharapkan pujian orang atau keuntungan secara materil, hal ini sebagaiamana Firman Allah SWT :
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Artinya : Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa.(Q.S Al Maidah :27)
Mereka akan selalu berusaha untuk menjadi orang yang beruntung dengan mensucikan dirinya, berzikir kepada Allah dan juga pada saat hari Idul Fithri menunaikan shalat (shalat Ied) sebagaimana Firman Allah SWT :
قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى
Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Rabbnya, lalu dia shalat. (QS. Al A’la : 14 - 15)
Dengan demikian pada saat kita mengakhiri bulan ramadhan maka kita perlu menjaga dan mengamalkan ayat 105 dari Surat Al-Baqarah tersebut yakni:
- Mencukupkan bilangan puasa Ramadhan tersebut selama satu bulan penuh, dengan menjaga puasa kita sejak awal Ramdhan sampai akhir Ramadhan dari hal-hal yang membatalkan atau mengurangi kesempurnaan ibadah puasa kita.
- Mengagungkan Allah atas petunjuknya yang diberikan kepada kita dengan mensyiarkan keagungan Asma Allah dengan bertakbir, bertahlil dan bertahmid memuni Allah dengan segala kebesaran dan keagungannya pada malam Idul Fitri tersebut.
- Menjadi orang bersyukur karena telah mendapat hidayah dari Allah SWT. Orang yang bersyukur adalah orang yang memahami betapa besarnya rahmat Allah yang telah diberikan kepadanya.
Makna mensyukuri pada ayat tersebut adalah:
1. Bersyukur karena telah dipertemukan dengan Ramadhan oleh Allah SWT.
Bertemu dengan bulan Ramadhan adalah suatu kenikmatan besar bagi orang-orang yang beriman, karena ibadah puasa Ramadhan diberikan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah : 183 :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.
Mendapat peringkat taqwa adalah memperoleh penghargaan yang paling tinggi di sisi Allah SWT, karena orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling taqwa kepada Allah sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat Al Hujarat ayat 13 :
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal
Dengan demikian orang yang bertaqwa akan menyadari bahwa dirinya merupakan orang yang dimuliakan oleh Allah SWT, tentunya tidak akan mengingkari segala perintah Allah SWT dan akan selalu menjauhi larangan Allah SWT baik secara sembunyi ataupun secara terang-terangan. Hal ini bisa diibaratkan dalam kehidupan dunia, jika seorang sangat dimuliakan oleh masyarakat, atau oleh rajanya atau pemimpinnya tentu dia tidak akan mau mengecewakan orang yang memuliakannya atau menghormatinya itu, biar bagaimanapun keadaannya.
2. Bersyukur karena telah dapat menikmati kegembiraan ketika berbuka puasa.
Berbuka puasa merupakan suatu kenikmatan dan kegembiraan yang luar biasa bagi orang berpuasa karena mengharapkan ridha Allah SWT, apalagi ketika kita berbuka pada saat melihat hilal bulan Syawal, terasa sangat gembira karena telah keluar sebagai pemenang dalam perang besar yakni perang melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan. Apalagi kegembiraan yang akan diperoleh oleh orang yang berpuasa pada hari akhirat kelak yakni dapat bertemu dengan Allah SWT.
3. Bersyukur karena telah mendapat kesempatan beribadah pada malam lailatul qadar.
Mendapat kesempatan beribadah pada malam lailatul qadr adalah impian dan cita-cita setiap orang yang berpuasa, karena nilainya lebih dari dari seribu bulan. Karenanya banyak sekali kaum muslimin yang pada malam-malam Ramadhan terutama di sepuluh yang terakhir dari bulan ramadhan meningkatkan amal ibadahnya, untuk mendapatkan kesempatan beribadah di malam lailatul qadr.
4. Bersyukur karena mendapat hidayah untuk beribadah dalam puasa ramadhan.
Mendapat hidayah berpuasa merupakan suatu keberuntungan besar bagi orang mukmin, dimana kita lihat banya orang yang seagama dengannya, malahan tidak melaksanakan ibadah puasa tanpa ada suatu uzur atau halangan untuk tidak berpuasa. Hal ini terjadi karena sebagian orang tidak berpuasa karena hanya melihat bahwa puasa itu suatu ibadah yang sia-sia, pada dalam ibadah puasa terkandung pahala yang besar, bahkan bermanfaat bagi kesehatan yang berpuasa. Tanpa hidayah dari Allah SWT orang tidak akan mendapat manfaat dan kenikmatan dalam berpuasa, kalaupun ia berpuasa maka ia hanya memperoleh lapar dan haus semata.
5. Berpuasa akan menciptakan kepribadian yang kuat dan peka terhadap berbagai kondisi sosial disekitar dan dalam kehidupan kita.
Ibadah puasa mengajarkan tentang arti dari kehidupan, dimana dalam kehidupan ini masih banyak orang yang hidup dibawah garis kemiskinan atau kurang mampu, yang dengan kondisi ekonominya mereka sering merasakan lapar karena tidak mempunyai makanan untuk dimakan, sementara orang yang berkemampuan memiliki makanan dan minuman yang berlebih dari kebutuhannya.
Dengan melaksanakan ibadah puasa selain mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT, orang yang berkemampuan akan dapat merasakan penderitaan yang dirasakan oleh mereka yang miskin dan tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan, karena orang yang mempunyai makanan yang cukup diajarkan oleh Allah SWT melalui ibadah puasa untuk tidak menyentuh atau memakan makanan tersebut sejak waktu imsak sampai dengan waktu azan magrib, padahal makanan dan minuman yang dimilikinya adalah miliknya sendiri dari usahanya yang halal.
Melalui pendidikan yang seperti itu, ibadah puasa mengajarkan kepada manusia yakni orang-orang yang beriman untuk dapat mengendalikan hawa nafsunya, karena hawa nafsu yang tidak terkendali akan menjadikan manusia serakah, hubbud dunia yang berlebihan, bahkan mengantarkan manusia kepada berprilaku dhlaim dan aniaya kepada manusia dan makhluk Tuhan lainnya.
Dengan demikian dengan melaksanakan ibadah puasa diharapkan manusia yang beriman menjadi orang yang bertaqwa, mematuhi segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya dengan menyadari bahwa semua yang kita perbuat adalah diketahuiNya meskipun manusia lain tidak mengetahui perbuatan jahat kita. Ibadah puasa juga mengajarkan manusia untuk mempunyai kepekaan sosial yang tinggi terhadap sesama terutama terhadap kalangan yang tidak mampu. Karenanya dengan berakhirnya Ramadhan dan datangnya hari kemenangan Idul Fithri dapat mengekalkan identitas kita sebagai orang yang bertaqwa dan mempunyai keperdulian sosial yang tinggi. Amin.