Ceramah Bakda Zuhur di Musholla Al Mizan PTA Medan

Transformasi Nilai-nilai Spiritual Puasa ke Dalam Jiwa Seorang Mu'min
Oleh : Drs. H. Yusuf Buchori, SH., M.Si

Bertempat di Mushola Al-Mizan Pengadilan Tinggi Agama Medan, pada tanggal 8 Juli 2015 yang bertepatan dengan Ramadhan ke-21 1436 H, Bapak Drs. H. Yusuf Buchori, SH., M.Si berkesempatan memberikan tausiyah bakda Sholat Zuhur kepada jemaah. Berikut isi tausiyah beliau:

1. Perjalanan spiritual selama menjalani ibadah puasa.
Syekh Rasyid Ridla dalam Tafsir al-Manar menyatakan : bahwa tujuan utama dari ibadah puasa adalah mempersiapkan manusia beriman untuk menjadi hamba Allah yang bertaqwa kepada Nya. Bagi orang yang berpuasa ketika merasakan keadaan lapar, maka ia akan teringat kepada saudara lainnya yang tidak ada bahan makanan dirumahnya sehingga tumbulah dalam diri orang yang berpuasa itu rasa cinta kasih (ro’fah) dan sayang (rahmah) kepadanya, dan hal itu mendorong kepada dirinya untuk mau berkorban dan berinfaq. Perasaan ro’fah dan rahmah yang dimiliki Rasulullah saw, maka Allah swt memberikan penghormatan sebagai hambaNya yang mempunyai sifat sebagaimana sifat Allah yaitu “Raufu al-Rahiim” atau “Ruhamaa”. Dari sifat kasih sayang tersebut lahir “ijtima’iyyah” (kesetia kawanan sosial), “ukhuwah” (persaudaraan dan kekeluargaan), “al-musaamah” (kesamaan derajat yaitu antara si kaya dengan si miskin, antara penguasa dan rakyat, dsb).

Ibadah Puasa adalah ibadah yang teristimewa jika dibanding dengan ibadah lainnya, karena Ibadah puasa bukan “al-if’al bi al-syai’”, tetapi “al-imsak ‘an al-syai’”. Menahan makan dan minum serta hal-hal lain yang bisa membatalkan puasa adalah memerlukan ketahanan fisik dan mental, karena hal itu berlawanan dengan keingian hawa nafsu manusia, sehingga dalam ibadah puasa ini terkandung pelajaran melatih kesabaran seseorang agar ia mampu untuk mengendalikan hawa nafsunya, dan memiliki jiwa “muraqabah” (kedekatan) kepada Allah swt dan merasa malu untuk berbuat dosa karena Allah swt selalu mengawasinya.

Ibadah puasa ibarat orang berjalan menuju Allah swt (maqom rabbaniyyah) dan perjalanan itu dimulai dari satu maqom ke maqom lain secara bertahap (thobaq ‘an thobaq). Perjalanan tersebut dimaksudkan untuk tazkiyatun nafs (mensucikan jiwanya) yaitu menjadikan dirinya suci bersih dari segala kotoran, hati yang bersih ibarat cermin yang bisa menangkap bayang2 sosok wujud sebuah benda sehingga sosok wujud itu nampak dengan jelas, wujud itu tak akan jelas tanpa cahaya, sinar yang menerangi wujud atau yang menyinari cerminya dan kemudian memantul ke wujud sehingga wujud itu tersinari dan terlihat dalam cermin itu.

Cahaya adalah sinar hidayah Allah yang dapat ditangkap dengan jelas dalam cermin hati yang tersucikan, bila sosok hidayah itu dapat kita tangkap dengan jelas dan bermukim dihati, maka selamatlah diri kita karena akan membuahkan sifat “taqwa” yang akan beranak pinak menjadi sifat sifat yang mulia, sifat ikhlas, istiqomah, dan qanaah, maqam syukur akan terlahir dalam diri kita, sehingga diri ini berteduh dan berlabuh dalam keheninggan genggaman Illahi.

Secara sederhana dapat kita katakan bahwa perjalanan menuju Allah adalah berpindah dari sosok yang kurang sempurna menjadi pribadi yang senpurna dalam kesalehan, mengikuti sunnah Rasulullah saw yaitu perjalanan hidup beliau baik ucapan, perbuatan dan sifat batin Rosulullah saw. Target utamanya adalah hati yang sehat (qalbun salim) , yaitu hati yang menyambut segala perintah Allah swt dengan nyaman dan ikhlas dengan totalitas ketundukan dan keridlaan, sehingga menuntun jasad untuk berjalan menuju pengamalan perintah Allah swt dengan kekuatan semangat dan kesungguhan.

Dalam pandangan syeikh Sa’id Hawa r.a membicarakan perjalanan menuju Allah bukanlah perkara mudah. Ada beberap faktor yang penyebabnya antara lain; Pertama : sangat sulit membatasi dan memetakan permasalahan ini. Kedua: karena dalam menyoroti permasalahn ini manusia terpecah menjadi beberapa golongan, setiap golongan memiliki kecenderungan yang berbeda.Mereka memandang seluruh persoalan dengan kacamata masing masing. Seorang yang sedang berjalan menuju Allah sering mengalami kondisi ruhiyah yang menghanyutkan perasaannya. Merasakan kemahaesaan Tuhan hanyut merasakan nama Allah yang menjadi tempat meminta dan berteduh dari segala kebutuhan kita. Ini adalah kondisi dimana orang merasakan segala sesuatu menjadi lenyap tidak berbekas, namun perasaan itu harus dibarengi keyakinan bahwa Allah adalah pencipta semua alam termasuk dirinya sendiri.

Ada dua maqom (jenjang spiritual) yang disebutkan dalam al-Qur’an yaitu maqom shiddiqiyah dan Rabbaniyyah. Dalam pandangan Syeikh Sa’id Hawa “shidiq” menurut beberapa nash memiliki dua makna, pertama: sangat membenarkan (mempercayai) kedua ; sangat benar. Firman Allah :

“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, mereka itu adalah As shiddiqun (pencinta kebenaran) dan saksi-saksi (syuhada’) di sisi Tuhan mereka. Mereka berhak mendapat pahala dan cahaya. Tetapi orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni-penghuni neraka.”

Hal yang menjadikan mereka shiddiqun adalah tasdiq (pembenaran) atas keimanan mereka. Oleh karena mereka benar dan selalu berupaya mencari yang benar, ia menjadi “shiddiqun“. Rabbaniyyah adalah shidiqiyyah plus; shiddiqiyyah didasarkan pada ma’rifah (mengenal) Allah dan ibadah kepadaNya dan rabbaniyah adalah siddiqiyyah yang disertai dengan ilmu, mengajar, nasehat, berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, amar ma’ruf nahi mungkar. Dalam kedua maqam itu ada kedalaman iman, akhlak dan perangai yang akan menjadikan pemilik kedua maqam tersebut memperoleh kedudukan yang tinggi disisi Allah. Mereka adalah “as- sabiqun” (para senior dan pelopor dalam kebaikan) dan “al-muqorrobun” ( orang yang didekatkan Allah). Allah swt berfirman :

“Dan as-sabiqun (orang orang terdahulu) itu adalah as-sabiqun. Mereka itu adalah al-muqarrabun (orang orang yang didekatkan kepada Allah).”

Selanjutnya dalam surat yang sama di ayat 88 – 91 Allah swt menyatakan bahwa orang-orang muqarrabin lah yang akan mendapatkan kemenangan baik dunia maupun akherat. Allah swt berfirman :
“Maka adapun jika ia dari golongan al muqarobin, maka baginya kelapangan, istirahat dan surga kenikmatan. Dan adapun jika ia dari ashabul yamin ( golongan kanan ),maka keselamatan bagimu dari golongan ashabul yamin.”

Jalan untuk sampai kepada Allah berkaitan dengan maqam, maqam dalam hati. As shiddiqiyah merupakan perbuatan dan hal ikhwal yang berkenaan dengan hati. Syeikh al Qusyairi r a. telah membicarakan kedudukan as-shidiqun yang berkaitan dengan perbuatan dan berkenaan dengan hati yaitu thobaq ‘an thobaq (tahap demi tahap) yaitu, taubat, mujahadah, zuhud, diam, lapar dan lainnya, merupakan tahap-tahap yang harus dilalui sebagai stasiun dalam perjalanan menuju Allah. As-shiddiiqun dan Ar-Rabbaniyun adalah pangkat mulia yang dijanjikan Allah yaitu hamba hamba Allah yang layak dekat dengan Tuhanya dan menjadi walinya, surga kautstar yang penuh telaga madu susu serta air tawar yang meneduhkan perasan hambaNya, sunyi dari hal yang mengeruhkan perasaannya. Pangkat itu hak yang bisa diraih setiap muslim yang sungnguh sungguh menuju Allah dan Allah swt akan memberikan pangkat dan kedudukan itu. Amin.

2. Istiqamah sesudah Ramadlan.
Menurut pengertian bahasa (literal), al-istiqaamah bermakna al-i’tidaal (lurus). Jika dinyatakan “istaqaama lahu al-amr”, maknanya adalah tegak lurus. Seperti halnya firman Allah swt, “Tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya”. Makna “istiqamah” pada ayat ini adalah tegak lurus untuk selalu menghadap kepada Allah swt, tanpa berpaling kepada yang lain. Istiqaamah juga bermakna al-istiwaa` (lurus dan setimbang). Makna semacam ini bisa dijumpai di dalam surat al-Fushilat, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah, kemudian beristiqamah..” Makna istiqamah di dalam ayat ini adalah melaksanakan ketaatan dan berpegang teguh kepada sunnah Nabi saw.” Menurut al-Aswad bin Malik, ayat ini bermakna, “Janganlah kamu menyekutukan Allah swt dengan apapun”. Sedangkan Qatadah mengartikan istiqamah pada ayat itu dengan “teguh” untuk selalu mentaati Allah swt.

Ada pula yang menafsirkan “istiqamah” dalam surat al-Fushshilat ayat 30 dengan, “beriman kepada Allah dan tidak pernah mengotori keimanannya dengan kedzaliman”. Ada pula yang mengartikan dengan, “tidak berbuat dosa dan tidak mencemari imannya dengan kesalahan”. Sedangkan menurut Imam Qurthubiy, istiqamah adalah tegak lurus atau konsisten untuk selalu mentaati Allah swt, baik dalam keyakinan, perkataan, dan perbuatan, kemudian tetap dalam kondisi semacam itu secara terus-menerus”.

Di dalam Tafsir al-Baidlawiy, Imam Baidlawiy, menyitir riwayat dari Khulafaur Rasyidin, menyatakan, “Istiqamah adalah al-tsabat (teguh) dalam iman, ikhlash dalam amal dan menunaikan seluruh kewajiban.”

Pada dasarnya, Allah swt telah mewajibkan Rasulullah saw dan kaum Mukmin untuk selalu istiqamah di jalan Allah swt. Di dalam sebuah ayat, Allah swt berfirman;

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang Telah Taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan”.

Tatkala Allah swt memerintahkan beragam perintah, mulai dari tauhid, kenabian, dan sebagainya, Allah swt memerintahkan kepada Rasulullah saw untuk beristiqamah (teguh dan konsisten) atas apa yang telah diperintahkan kepadanya. Perintah istiqamah di sini mencakup perkara-perkara ‘aqidah dan syariat (amal). Tugas ini tentunya sangatlah berat. Wajar saja Rasullah saw pernah bersabda, “Rambutku beruban karena surat Huud” .

Imam Qurthubiy menjelaskan; ayat ini merupakan perintah kepada Nabi saw dan kepada umatnya untuk istiqamah. Menurut Ibnu ‘Abbas, tak ada ayat yang diturunkan kepada Nabi saw yang lebih berat dan sulit dibandingkan surat Huud ayat 112. Oleh karena itu, tatkala beliau saw ditanya para shahabat, “Sungguh, anda cepat sekali beruban”. Rasulullah saw menjawab,”Aku beruban karena surat Huud dan suadara-saudaranya”.

Di dalam kitab Fath al-Qadir, Imam Syaukani menuturkan, “Fastaqim kamaa umirta, maknanya adalah beristiqamahlah seperti yang telah diperintahkan kepadamu, yakni semua hal yang diperintahkan Allah swt. Jadi perintah istiqamah di sini mencakup semua hal yang diperintahkan dan dilarang Allah.”

Perintah untuk istiqamah di atas jalan Allah juga disitir di dalam sunnah. Dari Abu ‘Amr diriwayatkan bahwasanya ia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepada saya suatu ucapan yang ada di dalam Islam, yang tak seorangpun bisa mengatakannya kecuali diri Anda. Rasulullah saw menjawab, “Katakanlah saya beriman kepada Allah, lalu teguhlah kamu dalam pendirianmu itu”.[HR. Imam Muslim]

Dari Abu Hurairah ra diriwayatkan, bahwasanya Nabi saw bersabda, “Biasa-biasa sajalah kamu sekalian di dalam mendekatkan diri kepada Allah, dan berpegang teguhlah kamu sekalian terhadap apa yang kalian yakini. Ketahuilah, tak ada seorangpun diantara kalian yang selamat karena amalnya. Para shahabat bertanya, “Tidak juga Anda, Ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak juga saya, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karuniaNya”.[HR. Imam Muslim]
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa istiqamah di jalan Allah; yakni selalu konsisten dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya adalah kewajiban bagi seluruh kaum Muslim, tanpa ada pengecualian.

3. Keutamaan Istiqamah di Jalan Allah
Orang yang istiqamah di jalan Allah, niscaya akan mendapatkan banyak keutamaan. Allah swt telah menjelaskan masalah ini dengan sangat jelas di dalam al-Quran. Diantara ayat-ayat yang berbicara tentang keutamaan istiqamah adalah ayat berikut ini;
“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, Kemudian mereka tetap istiqamah. Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.”

Ayat-ayat di atas menjelaskan dengan sangat gamblang, bahwasanya orang yang istiqamah di jalan Allah akan memperoleh banyak keutamaan, Diantara keutamaan-keutamaan tersebut adalah:

Pertama, Allah akan menurunkan malaikat kepada orang-orang yang beriman dan beristiqamah di jalan Allah. Malaikat tersebut menghibur dengan ucapan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Ibnu Zaid dan Mujahid menyatakan; malaikat akan diturunkan kepada orang tersebut menjelang kematiannya. Muqatil dan Qatadah berpendapat; malaikat akan diturunkan saat ia dibangkitkan dari kubur. Sedangkan menurut Ibnu ‘Abbas, ini adalah kabar gembira dari malaikat untuk mereka kelak di akherat. Ibnu Zaid dan al-Waqi’ menyatakan, kabar gembira tersebut akan disampaikan di tiga tempat; pertama, menjelang kematiannya; kedua, ketika berada di dalam kubur, dan ketiga, saat dibangkitkan dari kubur.

Kedua, malaikat akan menjadi penolong (wali) orang yang istiqamah di kehidupan dunia dan akherat. Menurut Mujahid, malaikat akan menjadi kroni orang-orang yang istiqamah di kehidupan dunia, dan kelak di akherat, malaikat itu tidak akan berpisah dengan orang tersebut hingga ia masuk ke dalam surganya Allah. Al-Sudiy menyatakan, malaikat akan menjadi penjaga amal orang yang istiqamah di kehidupan dunia, dan penolong di hari akhir.

Di ayat lain, al-Quran juga menyatakan dengan sangat jelas, orang yang beristiqamah di jalan Allah akan mendapatkan anugerah harta dan keberkahan yang melimpah ruah. Allah swt berfirman;

“Dan bahwasanya: Jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak)”.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim, dari Ibnu ‘Abbas ra, bahwasanya makna ayat ini adalah; jika mereka melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka, niscaya mereka akan mendapatkan kenikmatan. Dituturkan juga dari ‘Abdu bin Hamid dan Ibnu Mundzir dari Mujahid; makna ayat ini adalah, seandainya saja mereka konsisten untuk mentaati Allah dan semua yang diperintahkan Allah kepada mereka, niscaya Allah akan memberi mereka harta yang sangat banyak, hingga mereka menjadi kaya raya. ‘Abdu bin Hamid dan Ibnu Mundzir juga menuturkan sebuah riwayat dari Mujahid, bahwasanya makna ayat di atas adalah; seandainya mereka konsisten dan teguh di atas jalan Islam, niscaya Allah akan memberi mereka harta yang melimpah ruah.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, bahwasanya makna surat Jin ayat 16 adalah, seandainya mereka istiqamah di jalan Allah, niscaya Allah akan memberi mereka harta yang banyak. Penafsiran serupa juga diketengahkan oleh Sa’id bin Jabir , al-A’masy, al-Minhal. Sedangkan menurut Qatadah, maknanya adalah, seandainya mereka beriman, niscaya Allah akan meluaskan rejeki mereka di dunia.

Ali al-Shabuniy menjelaskan firman Allah di atas (surat Jin : 16) sebagai berikut, “Seandainya orang-orang kafir itu beriman, dan istiqamah di atas syariat Islam, niscaya Allah akan meluaskan rejeki mereka, dan melapangkan urusan dunianya. “Ma-an ghadzaqon” merupakan tamsil dari rejeki yang banyak. Al-Thariiqah adalah thariqah Islam (jalan Islam) dan taat kepada Allah. Dengan demikian maknanya adalah, seandainya mereka istiqamah di atas jalan itu, niscaya Allah akan melapangkan rejeki mereka, seperti firmanNya, “Seandainya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, sungguh akan Kami bukakan bagi mereka keberkahan-keberkahan dari langit dan bumi..”

Inilah keutamaan-keutamaan yang akan didapatkan orang-orang yang istiqamah di jalan Allah swt.

Setelah selesai menjalani ibadah puasa, kita orang-orang yang beriman agar supaya tetap istiqamah menjaga keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt. Adapun kiat untuk menjaga keistiqamahan diri dapat diringkas sebagai berikut;

Pertama, mengembangkan ‘aqliyyah Islaamiyyah (system berfikir yang Islamiy). Caranya adalah dengan menambah dan memperbanyak ilmu dan tsaqafah Islam, agar seseorang semakin memahami halal dan haram. Untuk itu, hendaknya kita banyak menghadiri majelis ilmu dan memiliki motivasi yang kuat untuk terlibat aktif di dalamnya. Cara berikutnya adalah dengan banyak dan rajin membaca buku pemikiran Islam baik yang menyangkut masalah aqidah maupun syariat (fiqh); dan lain sebagainya.

Kedua, mengembangkan nafsiyyah (system kejiwaan). Kiatnya, memupuk ketaatan kepada Allah swt dengan menjalankan seluruh perintahNya dengan penuh keikhlasan. Mendekatkan diri kepada Allah swt dengan memperbanyak amalan-amalan sunnah (membaca al-Quran, sholat Dluha, Thahajjud, dan sebagainya). Melatih kecenderungan kita ke arah yang baik (taqwa), serta menjauhkan diri kita dari kecenderungan yang buruk.

Semoga Allah swt tetap memberikan kekuatan dan hidayah kepada kita, amin.

  • 806_armen.jpg
  • 807_miharza.jpg