
MEDAN, SELASA 9 DESEMBER 2025 | Kota Medan diguyur hujan sejak sore, tepat pukul 21.00 WIB hujan tambah deras mengantarkan keberangkatan rombongan PTA Medan menuju Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga. Perjalanan rombongan PTA Medan dipimpin pak ketua Dr. Insyafli, MHI, ibu ketua Dharmayukti Karini PTA Medan Dra. Biva Yusmiarti, MA (Hakim Tinggi PTA Medan), sekretaris H. Hilman Lubis, SH, MH, Panitera Heri Eka Siswanta, SH, MH dan tim lainnya.
Pasca dua pekan terjadi bencana banjir dan tanah longsor di Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Kota Sibolga, berita yang terdengar ketua PTA Medan simpang siur, alhasil pak ketua memutuskan untuk turun langsung di lapangan. Perjalanan ini menjadi salah satu misi kemanusiaan yang penuh ketegangan dan drama. Meninggalkan Jalan Kapten Soemarsono, cuaca lembab dan langit yang tampak berat seolah memberi isyarat bahwa perjalanan ini bukan perjalanan biasa.
Konvoi kendaraan mulai bergerak perlahan, melintasi jalan toll Tebing Tinggi Medan lanjut toll Indrapura Kisaran menuju Kota Rantauprapat. Pada dini hari, rombongan memasuki kawasan Padang Lawas Utara. Suasana semakin mencekam: kabut tebal, hujan rintik, serta beberapa titik genangan air mulai tampak. Namun kondisi tersebut masih jauh dari gambaran sesungguhnya yang mereka temui begitu mendekati Kota Padangsidimpuan.

TAPANULI TENGAH, RABU 10 DESEMBER 2025. Meninggalkan Kota Padangsidimpuan, tanda-tanda kerusakan akibat cuaca ekstrem dua pekan terakhir mulai terlihat. Pepohonan tumbang di beberapa sisi jalan, sementara sejumlah warga terlihat membersihkan material lumpur dari halaman rumah mereka. Rombongan PTA Medan terus melanjutkan perjalanan, menjalankan mandat untuk meninjau langsung lokasi terdampak sekaligus memastikan layanan pengadilan agama di wilayah tersebut tetap berjalan, meski dalam suasana krisis.
Ketika kendaraan memasuki wilayah Tapanuli Tengah, situasi berubah drastis. Jalanan yang biasanya mulus kini terputus di beberapa titik. Aliran sungai yang meluap telah menggerus badan jalan, menyisakan celah lebar yang hanya bisa dilalui secara bergantian oleh kendaraan ringan. Petugas BPBD, TNI, POLRI, dan relawan tampak berjibaku mengatur arus lalu lintas darurat, sementara alat berat bekerja tanpa henti menyingkirkan longsoran.
Lumpur tebal—setebal mata kaki hingga lutut—menutupi aspal di beberapa segmen jalan, membuat rombongan harus melambat bahkan sempat berhenti. Beberapa kali kendaraan harus diarahkan ke jalur alternatif sempit yang hanya cukup untuk satu mobil. Pemandangan tenda-tenda pengungsian mulai muncul di kiri dan kanan jalan: ratusan warga berkumpul, sebagian besar anak-anak dan lansia, menunggu bantuan dengan wajah letih.
Bala bantuan dari berbagai daerah tampak berdatangan silih berganti. Truk logistik, ambulans, dan kendaraan relawan hilir mudik tanpa henti sejak dini hari. Suasana di lapangan menggambarkan betapa besar dampak banjir bandang dan tanah longsor yang telah terjadi selama dua pekan berturut-turut. Beberapa bangunan terlihat rusak, jembatan darurat dibangun di atas aliran sungai, dan material batu-batuan berserakan di badan jalan, menjadi saksi bisu dahsyatnya bencana.

PANDAN, PUKUL 11.16 WIB. Saat rombongan akhirnya memasuki Kota Pandan, udara terasa lebih lembab dan aroma lumpur begitu pekat. Di daerah inilah dampak bencana tampak sangat parah. Tim PTA Medan berhenti sejenak untuk menyapa aparatur PA Pandan dan menerima laporan langsung dari sana. Banyak aparatur yang kehilangan harta benda, kerusakan rumah, kendaraan dan sebagian lagi masih terjebak di wilayah sulit dijangkau.
Perjalanan berlanjut menuju Kota Sibolga, melalui jalur yang tak biasanya dengan pemandangan lumpur di sana sini yang juga terkena dampak longsoran. Di beberapa titik, rombongan harus turun dari kendaraan untuk memastikan jalur aman dilalui. Meski melelahkan, misi kemanusiaan ini dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Kunjungan ini bukan hanya bentuk kepedulian institusi peradilan agama, tetapi juga momentum solidaritas bagi masyarakat yang sedang diuji oleh bencana alam. Melihat langsung kondisi lapangan diharapkan membantu perencanaan dukungan lanjutan, khususnya pemulihan layanan administrasi dan bantuan hukum bagi warga yang terdampak.

SIBOLGA, KAMIS 11 DESEMBER 2025. Setelah menuntaskan peninjauan lapangan di Pandan dan Sibolga, rombongan Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Medan memutuskan untuk kembali ke Medan melalui jalur utara, melewati Barus dan daerah perbukitan Siburu-buru yang terkenal ekstrem. Keputusan ini diambil karena sejumlah ruas jalan utama yang dilewati saat berangkat masih terputus dan belum dapat dilalui dengan aman.
Perjalanan pulang dimulai pada Kamis pagi usai mengunyah sarapan dan mengisap beberapa batang rokok (bagi perokok) dengan kondisi yang tidak kalah dramatis dibanding rute keberangkatan. Memasuki wilayah Barus, rombongan menghadapi tantangan besar: tanah lumpur yang retak menggantung rendah, mengurangi jarak pandang hanya beberapa meter. Lampu sorot kendaraan harus bekerja keras menembus jarak pandang ke depan, sementara suara deru mesin mobil terdengar jelas, menambah ketegangan suasana.
Ketika kendaraan mulai memasuki kawasan Siburu-buru di Tapanuli Tengah, medan perjalanan berubah tajam. Jalur menanjak dan menurun curam dengan tikungan-tikungan sempit di bibir jurang menuntut kehati-hatian penuh. Tanah longsor kecil yang tersisa di beberapa titik membuat lajur jalan menyempit, memaksa rombongan untuk melintas satu per satu. Getaran tanah dan serpihan batu yang sesekali jatuh dari tebing membuat suasana semakin dramatis.
Hujan kembali turun deras ketika rombongan melewati lembah-lembah Siburu-buru. Air mengalir dari sela bebatuan, sementara kabut kembali menebal. Beberapa kali rombongan terpaksa berhenti untuk memastikan jalur tidak tertutup material longsor susulan. Meski fisik mulai lelah setelah perjalanan panjang sejak hari sebelumnya, semangat tim tidak surut. Tekad untuk kembali ke Medan dengan selamat menjadi dorongan utama.

DOLOK SANGGUL, PUKUL 13.57 WIB. Setelah melewati medan ekstrem itu, rombongan tiba di wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan. Jalan mulai membaik, meski sesekali genangan air dan kerikil berserakan masih menghiasi rute. Ketika kendaraan memasuki Kota Dolok Sanggul, suasana mulai terasa lebih tenang. Sejumlah anggota rombongan turun sejenak untuk beristirahat dan memastikan kendaraan dalam kondisi prima sebelum melanjutkan perjalanan.
Dari Dolok Sanggul, perjalanan berlanjut ke Siborongborong. Udara dingin pegunungan menyambut kedatangan rombongan, namun kondisi jalan relatif lebih stabil. Menjelang siang, rombongan singgah di Pengadilan Agama (PA) Balige untuk bersilaturahmi dan bercerita singkat mengenai kondisi Tapanuli Tengah–Sibolga yang baru saja ditinjau. Pertemuan berlangsung singkat tetapi penuh makna, sebagai bentuk koordinasi dan kepedulian antarlembaga peradilan agama.
Setelah dari Balige, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pematangsiantar. Jalur menuju kota itu cukup padat karena aktivitas masyarakat mulai normal kembali setelah beberapa hari diguyur hujan. Rombongan kembali singgah di PA Pematangsiantar untuk berkoordinasi serta melepas lelah setelah menempuh rute panjang melewati pegunungan dan lembah.
Menjelang sore, perjalanan terakhir menuju Kota Medan pun dimulai. Rute Siantar–Medan via toll Sinaksak Medan yang sering dilalui terasa berbeda kali ini karena kelelahan panjang mulai terasa. Meski demikian, seluruh anggota rombongan tetap menjaga fokus, saling berbagi semangat, dan memastikan keselamatan sebagai prioritas utama.
MEDAN, KAMIS MALAM. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan ribuan tikungan, puluhan tanjakan, serta melewati jalur rawan bencana dan cuaca ekstrem, rombongan Pengadilan Tinggi Agama Medan tiba kembali di Kota Medan pada Kamis malam, 11 Desember 2025 pukul 20.46 WIB. Kedatangan ini disambut rasa syukur mendalam, mengingat perjalanan pulang tidak kalah menegangkan dibanding perjalanan menuju lokasi bencana.
Misi kemanusiaan yang kami jalankan menjadi saksi solidaritas dan pengabdian lembaga peradilan agama bagi masyarakat yang sedang tertimpa musibah. Perjalanan ini tidak hanya membawa laporan kondisi lapangan, tetapi juga membawa pelajaran tentang ketahanan, kepedulian, dan kekuatan untuk tetap bergerak di tengah situasi paling sulit sekalipun. (alm/redaksi)