Ketua Pengadilan Agama Pematang Siantar Sri Hartati, S.H.I., M.H. dan Wakil Ketua Sri Suryada Br. Sitorus, S.H.I. mengikuti diskusi lanjutan Mahkamah Agung dengan Federal Circuit & Family Court of Australia (FCFCoA) secara daring  pada Selasa, 17 Januari 2023. 

Ketua Kamar Agama Mahkamah Agung Prof. Dr. Drs. Amran Suadi, S.H., M.Hum., M.M. dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan sarana tukar pengalaman antara Mahkamah Agung dengan FCFCoA dalam memahami situasi dan sistem masing-masing. “Peningkatan kepemimpinan perempuan di dunia peradilan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak begitu juga dalam hal meningkatkan kualitas hakim perempuan di peradilan Indonesia. Kegiatan ini bertujuan  untuk menjawab pertanyaan apakah profesi hakim diperuntukkan untuk perempuan dan mampukah mereka berperan sebagai pimpinan peradilan khususnya di indonesia.” ungkap Ketua Kamar Agama. 

 

Pada Diskusi Sesi I mengangkat topik “Peran Hakim Perempuan sebagai Pimpinan Peradilan di Indonesia”. Dirjen Badilag Dr. Drs. Aco Nur, S.H., M.H. dalam sambutannya menyampaikan data kepemimpinan hakim perempuan di Peradilan Agama Indonesia, dengan persentase sekitar 16% Hakim Perempuan di  Tingkat Banding dan sebanyak 29% Hakim Perempuan di Tingkat Pertama. Selanjutnya beliau menjelaskan terkait realisasi Fit and Proper Test di Lingkungan Peradilan Agama Tahun 2018-2022 serta beberapa alasan pengunduran diri Hakim Perempuan peserta dalam Fit and Proper Test tersebut.

Sementara Dirjen Badilmiltun Hj. Lulik Tri Cahyaningrum, S.H.,M.H. dalam sambutannya menyampaikan proses seleksi kepemimpinan pada Peradilan Militer dan Tata Usaha Negara diberlakukan sama antara laki-laki dan perempuan. Namun, jumlah hakim perempuan di Peradilan Militer dan Tata Usaha Negara tidaklah banyak dan kepemimpinan masih didominasi oleh laki-laki. 

 

Dalam diskusi ini pihak FCFCoA menghadirkan tiga orang hakim perempuan. Mereka menyampaikan bahwa di Australia seorang hakim diangkat diatas umur 40 tahun sehingga alasan mutasi karena keluarga bukanlah suatu kendala. 

Di dalam diskusi ini juga dibahas hakim-hakim perempuan dari Indonesia dan Australia akan mengikuti konferensi internasional di Maroko. Dimana nantinya hakim dari Indonesia dan Australia dapat bertukar pikiran dalam konferensi tersebut. Selanjutnya diskusi sesi II dilanjutkan pada pukul 13.00 WIB dengan topik “Pemenuhan hak anak dan istri pasca perceraian”.



Tim IT PA Pematang Siantar

  • 790-d-kurniawan.jpg
  • 791-d-khoirul.jpg
  • 792-d-almihan.jpg
  • 793-s-rafi.jpg
  • 794-s-munzir.jpg
  • 795-s-sahrudin.jpg