Pengadilan Agama Pandan : "Rencana Baru Dari Bukittinggi"

PANDAN | Kabut asap masih menyelimuti, udara dingin menusuk kulit ari, bulan di langit biru keputihan belum juga meninggalkan peraduannya, suasana pagi itu penuh keakraban. "Teeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng, krak," terdengar tumpukan piring yang baru saja dicuci dan mulai diangkat ke ruang tamu. Ya, pagi itu Minggu 23 Desember 2012. Keluarga besar Pengadilan Agama Pandan mengunjungi rumah Drs. Ifdal, SH Ketua Pengadilan Agama Pandan, rencana jalan-jalan dan belajar memang telah lama dinantikan, akhirnya kesampaian juga.
Rumah pak Ifdal memang sederhana, tetapi pagi itu kesederhanaan semakin tampak ketika warga Pengadilan Agama Pandan dijamu untuk sarapan pagi bersama. Apa menunya? Oh, ternyata lontong khas kota Bukittinggi Sumatera Barat. Pak Ifdal dan istri serta 3 orang anaknya yang masih kecil-kecil menyambut rombongan, meskipun dengan lontong dan sayur nangka.
Lepas, bebas, sedikit tersenyum, tampak dari wajah-wajah rombongan dari Pandan Tapanuli Tengah. Ibu-ibu membantu menuangkan teh hangat, sedangkan adik-adik honorer menuangkan lontong ke piring-piring kristal. Tidak demikian dengan bapak-bapak, mereka terlihat senjang dan santai menunggu giliran piring berisi lontong sayur diantarkan ke pangkuan.
****************

Pukul 10.45 WIB, rombongan Pengadilan Agama Pandan bergerak meninggalkan rumah pak Ifdal, tujuh mobil yang di dalamnya mengangkut seluruh pegawai dan keluarga masih kuat bertahan, meskipun telah menempuh perjalanan satu malam.
"Saya sudah biasa membawa mobil, pernah dua hari dua malam non stop," kata Miswar seraya menambah tekanan mobil. Pagi itu rombongan menuju Pengadilan Agama Bukittinggi yang kebetulan tidak jauh dari rumah pak Ifdal.
Sebuah gedung tiga lantai yang megah, terletak di atas pegunungan sehingga tampak indah dan elegan dari kejauhan, itulah gedung Pengadilan Agama Bukittinggi klas 1B. Suasana sepi dan hening, tetapi pintu-pintu terbuka karena penjaga kantor sudah lama menunggu rombongan PA Pandan.
"Silahkan masuk bapak ibu," sapa penjaga kantor. Pak Ketua dan wakil ketua diikuti para hakim dan ibu-ibu dharmayukti karini PA Pandan masuk ke dalam ruang pelayanan publik di PA Bukittinggi. Sedangkan Pansek dan keluarga besar PA Pandan lainnya melihat-lihat ruang tunggu para pihak, ruang mediasi, dan ruang sidang.
"Wah, kita bisa mencontoh ruangan ini ya?" ujar pak Ketua. "Bisalah pak," jawab Pansek mengamini. Ruangan meja pelayanan publik dan meja informasi di PA Bukittinggi memang terkesan elegan dan deluxe, hampir serupa dengan hotel bintang 3 (tiga). Oranem-ornamen yang terbuat dari plastik glossy yang dicetak dengan perantara sablon digital, membuat suasana ruangan enak dipandang mata dan nyaman untuk berlama-lama.
Tidak hanya itu, lantai dua dan tiga juga membuat unsur pimpinan tertegun lama. Ruangan hakim dan para pejabat di PA Bukittinggi memang berbeda dengan PA-PA lainnya, selain membuat mata tak berkedip, ruangan itu juga mengajak rombongan PA Pandan untuk mengambil foto dan mencatat desainnya.
Pukul 11.32 WIB, Ketua PA Bukittinggi Drs. Syahrial Anas tiba di gedung megah itu. "Maaf, saya terlambat," tegasnya. Mantan wakil ketua PA Lubukpakam itu mendatangi satu per-satu tamu dari PA Pandan. Sedikit berbisik dengan pak Ifdal, ketua PA Bukittinggi mengajak rombongan untuk melihat-lihat ruang sidang dan memberikan sedikit pengarahan.
****************
Suasana dingin masih terasa, meskipun matahari tepat di atas kepala. Rombongan meninggalkan PA Bukittinggi dan menuju pusat kota. Sepanjang perjalanan menuju kota dan tempat wisata, pak Ifdal banyak menyampaikan rencana-rencana baru untuk perubahan di PA Pandan. Apa saja itu?
"Saya mau ada perubahan di PA Pandan, terutama meja pelayanan publik dan meja informasi, minimal kita menyerupai seperti PA Bukittinggi," papar pak Ifdal.
Meja pelayanan publik yang diinginkan pak Ifdal adalah meja yang berbasis TI, dimana pendaftaran langsung tersambung dengan SIADPA-plus. Ruang tunggu juga berbasis TI dimana panggilan sidang langsung terkoneksi layar datar dan otomatisasi. Bagaimana dengan ruang sidang?
Ya, sama persis seperti meja pelayanan publik dan ruang tunggu sidang, dimana panitera pengganti langsung mencatat berita acara di SIADPA-plus. Selesai sidang, berita acara-pun bisa dikoreksi.
Bagi pak Ifdal, zaman sekarang adalah zaman teknologi dan informasi, semua orang berhak mendapatkan informasi dan mengakses berita sebanyak-banyak untuk menambah khazanah keilmuan.
Tuntutan pengelolaan website di setiap PA memang sudah keharusan, di dalam website itu terdapat menu-menu dan sejumlah informasi untuk masyarakat. "Itu semua bagian dari pelayanan publik," urai pak Ifdal.
Sejak diberlakukannya UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, seluruh instansi pemerintahan dan swasta dan seluruh masyarakat Indonesia wajib melek informasi dan transparan dalam menginformasikan sesuatu. Tanpa terkecuali PA Pandan. Pengadilan Agama yang terletak di pantai barat Sumatera Utara itu juga lambat laun mulai melakukan perubahan menuju transparansi bidang TI.
Tidak mau ketinggalan dengan PA Bukittinggi, pak Ifdal akan merumuskan rencana baru bagi aparatur PA Pandan untuk menuju perubahan internal pada tahun 2013 mendatang. Selamat datang era baru dan selamat berubah menuju era digital.
"Driiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing,,,," suara knalpot mobil Inova hitam pak Ketua terdengar nyaring dengan kecepatan di atas 89km per-jam, mobil yang membawa tiga keluarga itu menuju Ngarai Sianok dan Danau Maninjau. "Sekarang saatnya rekreasi, tadi kita sama-sama belajar di PA Bukittinggi," kilah pak Ifdal.
Kota Bukittinggi lambat laun tidak tampak dari kejauhan, posisi rombongan di atas bukit yang tinggi menuju kelok demi kelok hingga turun ke hamparan danau Maninjau. Ya, danau Maninjau, tempat dimana Buya Hamka dilahirkan dan sebuah tempat yang memenuhi buku-buku sejarah anak-anak SD...............bersambung (Alimuddin)
sumber: www.pa-pandan.net (27/12/2012)