
Bertempat di Aula Lantai III Pengadilan Tinggi Agama Medan pada hari Senin tanggal 31 Juli 2023, pukul 08.30 Wib. dilaksanakan Kegiatan Pembinaan mental. Jadwal pembinaan mental pada hari ini penceramah adalah Dr. Drs. H. Paet Hasibuan, S.H., M.A. (Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama Medan), yang bertemakan “Penyesalan Tida Bertepi”, dihadiri oleh seluruh aparatur Pengadilan Tinggi Agama Medan dengan pembawa acara Azhari, S.H., M.H. (Panitera Pengganti Pengadilan Tinggi Agama Medan).
Dalam Ceramahnya Bapak adalah Dr. Drs. H. Paet Hasibuan, S.H., M.A. menyampaikan bahwa, salah satu penyesalan mendalam yang takkan boleh ditangani adalah penyesalan orang yang zalim akibat menyalahi jalan Rasulullah dan fanatik mengikuti jejak kesesatan orang lain akibat menjadikannya sebagai teman dekat (khalîl):
Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” (TMQ Al-Furqân [25]: 27). Itulah hari di mana mereka yang menyalahi jalan Rasulullah di dunia seraya memilih jalan-jalan kesesatan akan mendapati penyesalan tak bertepi di akhirat kelak. Kalimat ya’adhdhu al-zhâlim ‘alâ yadayhi (hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya) menjadi kiasan (al-kinâyah) dari besarnya penyesalan mereka di akhirat kelak.
Menariknya, walaupun turunnya ayat ini berkaitan dengan ‘Uqbah bin Abi Mu’ith (al-zhâlim) yang disesatkan Ubay bin Khalaf (fulân[an] khalîl[an]), namun jelas berlaku bagi setiap orang zalim dan yang menyesatkannya, sebagaimana ditegaskan al-Hafizh Ibn Katsir dalam tafsirnya, dinukilkan Prof Dr Muhammad Ali al-Shabuni dalam Shafwat al-Tafâsîr (II/331).
Kalimat ma’a al-rasûl dikedepankan daripada lafaz sabîl[an], menegaskan sekaligus mengkhususkan (qashr) bahawa satu-satunya jalan kebaikan tersebut hanya jalan yang ditempuh Rasulullah. Diksi sabîl[an] (jalan) dipilih untuk menggambarkan keyakinan (’aqîdah) dan amal perbuatan (syarî’ah) yang ditegakkan Rasulullah dalam menyusuri jalan kehidupan. Akidah Islam sebagai batu asas kehidupan, dan syariat Islam sebagai satu-satunya aturan yang diterapkan. Memilih selain akidah dan syariat Islam sebagai standard dalam menjalani kehidupan adalah kezaliman dan menjadi sebab penyesalan mendalam.
Apakah kamu kira masih punya banyak waktu untuk melaksanakan amanat ini? Sampai kapan jiwamu berada dalam kelalaian dan kekosongan hati? Berputar dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa tujuan yang sejati. Kehidupan seperti itu bukanlah sebuah kehidupan sejati, melainkan umur yang dibuang dalam perputaran hari. Sampai kemudian dibangunkan oleh kenyataan yang membuat penyesalan tak bertepi. Mengapa kamu begitu yakin Tuhan akan menjagamu hingga esok hari, sementara setiap detik ribuan orang mati? Setiap detik ribuan orang mengucapkan doa mereka yang terakhir kali. Tak ada waktu untuk menunggu esok hari. Tiap detik amatlah berharga, tiap detik mesti kita cermati, dan kita syukuri. Jangan sampai kita menyia-nyiakan detik waktu yang berharga ini. Manfaatkanlah ladang yang amat berharga ini. Bersyukurlah kamu masih diberikan kehidupan di hari ini. Bangunlah dari tidur dan kelengahanmu ini, jangan pernah terjebak dengan hawa nafsu yang tak pernah terpuasi. Satu-satunya alasan Tuhan masih memberi kesempatan hidup di dunia ini, adalah karena kasih-Nya yang tak bertepi. Agar kamu masih sempat memperbaiki diri. Alam malakut persis di depan mata, demikian dekatnya dengan diri ini, namun mata batin kita masih terhijab tabir duniawi. Jangan sampai ketika tabir tersebut dibukakan, sudah terlambat untuk menyesali.
“…ketika orang-orang itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (sambil berkata) “Wahai Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal kebaikan kembali…” (QS. As-Sajdah [32]: 12).
Namun, terlambat sudah untuk menyadari, tak ada lagi amal kebaikan yang diterima Ilahi. Wajib bagi setiap muslim untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari adzab kubur dan mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan di alam kubur dengan cara memperbanyak amal shalih sebelum ia memasukinya, karena yang demikian itu akan mudah baginya selama ia masih hidup di dunia. Apabila seseorang telah memasuki alam kubur, ia pasti akan sangat berharap untuk dapat menambah amal shalihnya walaupun hanya sedikit. Akan tetapi, ia tidak akan mungkin dapat melakukannya. Demikian Acara Pembinaan Mental ini dilaksanakan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. (Jas).