1

Seperti minggu-minggu sebelumnya, diminggu terakhir bulan ini yakni Kamis tanggal 26 Juli 2018 Pengadilan Agama Rantauprapat mengadakan Bina Mental yang diisi oleh Ketua Pengadilan Agama Rantauprapat Drs. H. Bhakti Ritonga S.H.,M.H serta dihadiri oleh Hakim, Panitera, Sekretaris serta seluruh pegawai dan tenaga Honorer Pengadilan Agama Rantauprapat kelas I-B.

2

Dalam taushiahnya, Ketua Pengadilan Agama Rantauprapat mengangkat tema yang erat kaitannya dengan kehidupan kita, yakni Tetap Optimis dalam menghadapi kehidupan serta tantangan dalam mengarungi kehidupan.

Allah ta’ala berfirman,

لِلْغَاوِينَ الْجَحِيمُ وَبُرِّزَتِ لِلْمُتَّقِينَ الْجَنَّةُ وَأُزْلِفَتِ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ

“Pada hari itu tidak berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih, dan surga itu akan didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, dan akan ditampakkanlah dengan jelas neraka itu kepada orang-orang yang sesat.” (QS. as-Syu’ara’: 88-91)

Terkadang kita berfikir bahwa harta akan membawa kita kepada kebahagiaan dunia, dan itulah tuntutan hidup yang paling utama. Oleh karenanya untuk mendapatkan harta itu kita bisa melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan ketentuan Allah, padahal harta tidak bisa menyelamatkan kita di hari akhir.

Tapi senyatanya untuk memperoleh harta, jabatan, kita tidak perlu memperolehnya dengan melanggar ketentuan Allah SWT, karena rezeki kita sudah diatur dan sudah ditentukan , kita hanya perlu berikhtiar serta optimis, Seorang muslim yang memiliki sifat optimis akan selalu berfikiran positif dan berprasangka baik kepada Allah SWT, sehingga ia akan dijauhkan dari perbuatan yang melanggar ketentuan Allah SWT.

Manusia apabila melakukan perbuatan melanggar ketentuan Allah SWT, dan ia telah sadar dengan perbuatannya, maka tidak ada jalan lain baginya kecuali Istighfar dan Taubatan Nasuha.

Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata.

أَسْتَغْفِرُ اللّهَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْهِ

"Aku mohon ampun kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan bertaubat kepada-Nya".

Taubatan Nasuha merupakan proses taubat yang dilakukan secara bersungguh-sungguh, dengan kebulatan tekad, niat, dan menyempurnakannya dengan usaha untuk memprbaiki diri. Jika taubat dilakukan tanpa usaha dan perbaikan diri, maka taubat yang dilakukan bukanlah taubatan nasuha. Ia hanya sekedar untuk meminta ampun tapi usaha untuk menjauhi perbuatan dosanya tetap dilakukan.

Jika hanya mengakui kesalahan dan tidak memperbaiki keadaan, sejatinya manusia dalam posisi yang tidak bersungguh-sungguh bertaubat. Allah menilai bukan hanya dari niat dan ungkapan permohonan taubat kita. Maka, kunci dari taubatan nasuha adalah amalan yang diperbaiki dan dilakukan secara konsisten. Bukan hanya perilaku sementara kemudian lupa untuk memperbaiki diri, dan akhirnya kembali lagi kepada kesalahan dan kekeliruan yang ada.

Kemudian, istighfar merupakan solusi dari semua problem dan masalah yang kita hadapi, bahkan salah satu sumber kebahagiaan yang kita idamkan. Sejatinya, istighfar dengan permohonan ampun yang jujur yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, yang benar-benar menyesali perbuatan dosanya. Istighfar inilah yang bakal bias menjadi sebab bebasnya kita dari segala dosa, bahkan mengundang rizki dari Allah Azza wa Jalla melalui jalur yang tiada kita sangka-sangka.

  • 971-s-ahsin-abdul-hamid.jpg
  • 972-s-imaluddin.jpg
  • 973-s-zainal-arifin.jpg
  • 974-s-yunadi.jpg
  • 975-s-imron.jpg
  • 976-s-rokhanah.jpg
  • 977-s-zainullah.jpg
  • 978-s-nasri.png
  • 979-s-arief.png
  • 980-d-mumu.png